Langsung ke konten utama

Short Story 'Aksara Luka'

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Yang kutahu aku menyukai seseorang 
Yang tak kusuka darinya. Ketika aku menyadari bahwa rasa kagumku  berubah menjadi sebuah rasa yang perlahan membuatnya terasa semakin jauh.

Gadis itu duduk di pinggiran tempat tidurnya. Menatap tembok dinding yang entah sejak kapan mengingatkannya pada kenyataan itu. Setetes air mata luruh, tanpa suara. Membiarkan air mata mengutarakan rasa yang selama ini terpendam. Dia tidak ingin melupakan segalanya. Hanya sekedar melupakan rasa sakit yang selama tiga tahun ini mengganggunya. Ia sandarkan punggungnya, mengusap air mata dan menatap selembar kertas yang telah usang. Di sana tertera tanggal yang ia tulis 2 tahun lalu. Dan sebuah nama yang lagi-lagi membuat air mata yang sempat mengering kembali menetes. Tanpa suara, ia luapkan semuanya. Mendekap lembaran itu, menatap ke langit seolah bertanya.

Jika waktu itu mereka tak bertemu. Apakah mungkin ia akan jatuh cinta seperti ini?

******
 Hari pertama masuk sekolah, semuanya masih sama. Teman baru, seragam baru, suasana baru, dan yang paling ku benci, ketika semua orang disini bersama tapi tak ada pembicaraan. Sepi. Iya karena mereka gengsi untuk sekedar mengeluarkan kata 'hai'. Jangan kira aku berbeda dengan mereka. Aku sama. Sama-sama enggan untuk berkenalan dengan teman 'baru'. Prinsip pertemananku cukup mudah. Ucapkan hai maka detik itu kamu jadi temanku.

Aku melirik ke penjuru kelas. Masih sama. Tak ada yang bersuara, hanya dua siswa di bangku paling belakang yang suaranya paling berisik. Aku rasa mereka satu sekolah dulu.

Dan ya, ini sudah sebulan aku berada di sekolah ini. Seminggu di kelas ini juga tentunya. 7 A. Keadaannya sudah mulai berubah, mereka yang tadinya berlagak sok polos kini malah jadi yang paling berisik di kelas.

Dan aku, masih sama. Masih enggan untuk berkenalan dengan mereka di sini. Nyatanya, semenjak berada disini aku hanya akrab dengan teman sebangku yang tak lain teman satu sekolahku dulu. Dan yang lainnya, aku hanya mengenal nama dan wajah yang sering kali salah membedakannya.

Tak ada yang menarik perhatianku, kecuali satu sosok yang menempati bangku tengah itu berada. Entah mengapa sejak pertama melihatnya, aku senang. Bukan berarti aku suka, aku hanya senang melihat wajahnya yang dimataku terlihat 'ganteng'. Dalam versi ku tentunya. Ia juga masuk dalam kriteria cowok paling nggak berisik di kelas ini. Dan sudah sebulan ini, aku punya hobi baru. Yaitu menatapnya diam-diam.

Suara disebelah mengusik ketenanganku. Aku menoleh, ternyata Rhea yang memanggilku. Menunjuk buku yang ada dihadapanku yang sudah sejak tadi aku selesaikan tugasnya.

"Kenapa Rhe?"

Walaupun sedikit kesal karena tadi dia sempat mendiamkanku hanya karena masalah sepele. Aku tetap menanggapinya. Bagaimanapun juga, ia yang selama ini membantu ku bersosialisasi dengan teman kelas ini. Walaupun aku masih sulit untuk akrab dengan mereka, tetapi setidaknya Rhea telah berbaik hati padaku.

"Itu, aku mau tanya soal nomer 5. Jawabannya ada di halaman berapa sih, aku cari dari tadi nggak nemu juga," ia menyodorkan buku paket bersampul putih itu kepadaku sambil menunjukkan sebuah nomor soal.

Pandanganku beralih ke buku dihadapanku dan meneliti soal yang Rhea tanyakan.

"Aku nemu jawabannya kok, coba kamu teliti lagi cari nya. Lihat kata kuncinya, terus kamu cocokin sama yang di buku paket pasti nemu."

Rhea mengangguk paham kemudian kembali fokus dengan tugas yang di berikan guru Matematika yang ijin berhalangan hadir.

"Oke deh, makasih. Meskipun jawaban kamu nggak bikin aku puas. Tapi nggak apa-apa deh," ucapnya  

Aku tertawa melihatnya mengerucutkan bibirnya sebelum kembali mengambil pensil dan membaca soal yang ia tanyakan tadi.

Mereka yang sudah lama dekat denganku tentunya sudah hafal dengan prinsipku. Aku tidak akan memberi cuma-cuma apa sudah aku kerjakan. Seperti dengan Rhea tadi. Tujuanku adalah, agar dia tidak bergantung dengan yang lain dan tanggung jawab dengan tugasnya sendiri. Dan alasan terakhir, aku memang sepelit itu kalau menyangkut nilai akademik.

"Udah nemu jawabannya belum?" Aku bertanya saat beberapa kali melihat Rhea terlihat frustrasi dengan tugas itu.

Kali ini ia menyodorkan buku tulisnya yang terdapat beberapa coretan disana kepadaku.

Aku mengernyit tak paham.

Rhea membuang nafas kasar. "Aku nyerah Ay, dari tadi gue coba sama rumus-rumus yang di catetin sama Pak Aldi tapi sumpah otak aku kayaknya nggak sampe kesitu deh,"

Dia mengedipkan sebelah matanya. Aku tertawa.

Dan, kalian bisa menebak kalau selanjutnya bagaimana nasib buku beserta tugasku.

........

Di tempat dudukku aku mendesah pelan. Lagi-lagi keadaan kelas semakin rusuh, apalagi guru yang mengajar berhalangan hadir. Menitipkan tugas kepada ketua kelas, dan dengan garis keras harus dikumpulkan. Mengingat kelakuan teman sekelasku yang paling amburadul, aku berani bersumpah jika guru itu datang maka aku dan anggota kelas lainnya mendapat hukuman. Padahal, tugas milikku sudah siap untuk dikumpul. Ingin aku bersikap egois dan mengumpulkan tugas milikku sendiri ke ruang guru, dan selanjutnya aku akan dibangga-banggakan guru-guru. Ah, ekspektasi memang tak akan berakhir seperti imajinasi.

"Woy, Ay lihat tugas lo dong. Gue nggak ngerti sama sekali nih"

Aku memutar bola malas, didepanku ada Revan. Cowok urakan yang kesekian di kelasnya. Lagi-lagi minta contekan, cih.

"Makanya kalau di jelasin guru tuh dengerin, bukannya malah nyanyi nggak jelas. Untung kalau suara kalian pada bagus, lah ini bikin sakit iya"

"Udah deh mana tugasnya, kebanyakan ceramah bikin muka lo makin tua lo. Tuh-tuh keriputnya udah mulai keliatan."  Aku meraba wajahku, dan mengambil kaca yang entah sejak kapan ada di depanku.

Aku menjerit kesal. Sial. Revan ngerjain aku.

"Kampret banget sih kamu Van." Sungutku yang dibalas cekikikan Revan dan beberapa cowok dibelakangnya.

Aku menggeleng kesal, berniat mengambil buku tugasku kembali. Tapi dasar si Revan, buku tugas milikku kini sudah berada di kerumunan cowok-cowok yang emang niat buat nyontek.

"Ish, dasar si Revan bikin darah tinggiku naik aja."

"Yaudah lah Ay, si Revan kan udah dari dulu rese. Wajarin aja kali."

"Iya tapi kan nggak bisa gitu Rhe, dosa apa aku punya teman kayak dia." Rhea hanya tersenyum melihatku yang memang dasarnya suka marah-marah.

Aku menenggelamkan wajahku ke meja, berusaha menerima saran dari Rhea. Tapi aku tidak bisa.

"Balikin buku tugas aku. Enak aja kalian tinggal nyalin. Ngerjain nih tugas juga pake otak kali."

Kini, Aku berada di samping gerombolan cowok-cowok pencari contekan. Beberapa dari mereka mendesah pelan, sudah menebak bahwa Aku akan ngamuk dan menimbulkan keributan dan pada akhirnya alan berurusan dengan BK.

"Solidaritas dikit napa sih lu, pelit banget jadi cewek. Nyontekin ilmu ke gue bisa dapat pahala loh Ay." Aku melotot ketika cowok itu mengedipkan sebelah matanya.

"Yeh si Dio, bisa aja ngelesnya. Tobat woy, masuk BK baru tau rasa lo."

"Enggak apa deh, asal masuk BK nya dianterin Ayla."

"Aduh, sakit elah."

Dio mengusap kepalanya yang menjadi korban geplakan tanganku. Salah sendiri, berani menggodaku.

"Udah deh, balikin buku aku sekarang juga." Ucapku kesal.

Perutku sudah minta dikasih jatah dari tadi, dan mereka malah membuatku ingin menelan mereka hidup-hidup. Itu juga kalau dagingnya enak. Ih mikir apa sih Ay.

"Tinggal dikit nih Ay, pelit banget elah" Ucap Raga yang badannya paling bongsor dan umurnya paling muda.

"Nyontek yang lain kan bisa. Kenapa harus aku coba? "

"Iya karna lo yang paling pintar Ay. Heran gue, makan apa sih lo bisa pinter gitu" Enggak itu bukan gombalan yang bisa meruntuhkan hati seorang Nev Ayla Arin Syanindita.

Aku mencoba menetralkan detak jantungnya. Menatap Aga, cowok yang berbicara tadi. Sumpah, Aga itu bukan termasuk cowok urakan di kelasnya. Bahkan menurutku cowok itu adalah cowok baik-baik.

Dan lagi, ia cowok yang selama ini Aku kagumi.

"Kamu tanya gue makan apa gituh? Ya nasi lah. Aku bisa pinter ya karna aku belajar, makanya kalian kalau mau pinter tuh belajar jangan cuma nyontek doang bisanya."

Kembali ke buku milikku yang masih setia berada di tengah-tengah gerombolan cowok tukang rusuh membuatku semakin kesal. Sudah jelas aky tidak akan menang kali ini. Apalagi ketika mereka berpura-pura menulikan telinganya saat aku berteriak. Bahkan berusaha mematikan rasa sakitnya saat dengan sengaja aky menjegal dan menekan kaki-kaki mereka. Sumpah demi apa, itu pukulan terkeras yang aku lakukan. Tapi apa? Mereka malah ketawa.

Setelah gagal mendapatkan buku tugasku kembali, aku kembali ke bangku ku. Semakin kesal ketika aku melihat Rhea tidak ada ditempatnya. Aku melirikke penjuru kelas, sial...

" Aish, gara-gara kalian aku ditinggal Rhea"

Aku melirik ke luar kelas, sepi. Kemungkinan mereka semua berada di kantin. Dan hanya aku yang di kelas sendiri, ah tidak juga ada manusia yang berlagak menjadi patung. Aku menyeringai jengkel, berusaha melihat bagaimana nasib buku tugasku. Tapi bukan buku yang ia temukan, malah tatapan mata yang seketika membuatku seketika lemas.

Aga menatapku.
....

"Boring banget nih, nyanyi aja kuy"

Aku menatap antusias pada Disa, ini yang aku tunggu sejak tadi. Bernyanyi, setidaknya sedikit menghilangkan rasa kesal ku pada kejadian sebelum istirahat tadi.

Iya, beberapa waktu di sekolah ini. Ternyata aku  merasa nyaman, walau kadang aku sempat merasa kesal dengan tingkah laku teman cowok yang masih saja membuatku darah tinggi.

"Ayo deh. Nyanyi apa Dis?" tanyaku

"Ngelanjutin yang kemarin aja deh, yang lagunya Virgoun itu,"

Aku mengambil buku catatan lirik dari tas ku dan menarunya di tengah-tengah sehingga aku, Disa, Alin, dan teman  yang lainnya bisa ikut bernyanyi tanpa takut salah lirik.

Kami tersenyum puas setelah lagu pertama selesai dengan baik, meskipun suara kami bisa dibilang 'hancur'. Setidaknya kami melakukannya tanpa beban.

Kembali ke tempat dudukku, aku menghela nafas. Ku lirik bangku di sebelahku kosong. Memang, setelah kelas 8 dan wali kelas juga berganti. Peraturan di kelas sangat ketat, apalagi setiap hari tempat duduk harus bergeser, dan setiap selesai ulangan Matematika otomatis teman sebangku juga di acak. Itu yang membuatku kesal, karena tidak sebangku dengan Rhea.

"Ay, boleh ngobrol sebentar nggak?"

Tersentak, aku menoleh."Eh kamu ga, aku kira siapa. Boleh mau ngobrol apa emangnya?"

Ia menggaruk telinganya yang kurasa tidak gatal.

"Emm itu boleh minta nomor ponsel lo nggak,"

Aku mengerutkan kening. Buat apa Aga meminta nomor ponselku.

"buat tanya tugas, biar gampang gitu. Boleh kan Ay?" jawabnya seolah tahu apa yang aku pikirkan.

Aku mengerjap beberapa kali, berusaha menyembunyikan raut wajahku yang sedikit kesal, bukan ini lebih ke rasa kecewa.

"Boleh lah, bentar aku catetin di kertas dulu."

Dia menerima kertas yang aku berikan dengan senyum mengembang. "Thanks Ay, ntar gue hubungin ya," Lanjutnya sebelum kembali ke bangkunya.

Sejak saat itu, Aga sering mengirimiku pesan. Meskipun alasannya saat itu untuk bertanya tugas, tapi sejak beberapa bulan ini bukan tugas yang menjadi obrolan kami. Sebaliknya, pesan yang ia kirimkan lebih ke pesan pribadi antara aku dan dia. Seperti saat ini.

Aga
Malam Ay

Malam juga Ga

Lagi ngapain Ay

Ini, lagi nonton tv aja.
Kamu sendiri lagi apa?

Lagi nonton bola nih.

Owh, iya

Ay, aku sayang sama kamu

Aku melongo kaget. Sedetik kemudian aku tersenyum dan mengambil ponselku yang sempat  terlempar ke kasur karena saking kagetnya.
Aku mengetikkan balasan pada Aga.

Eh, ini Aga bukan sih?

Iya Ay, ini aku Aga

Terus, tadi maksudnya apaan

Aku sayang sama
kamu sebagai teman

Jleb, balasan dari Aga seketika membuatku tersadar. Aga membuatku melayang sekaligus menjatuhkanku ke dasar jurang.

Ah, malang sekali nasibmu Ay.

Jadi, Aga hanya menganggapku teman ya? Oh berarti selama ini hanya aku yang berharap lebih.

Aku memilih menutup ponselku dan tak membalas pesan Aga. Meskipun setelahnya ada beberapa pesan yang Aga kirimkan padanya. Intinya ia meminta maaf jika perkataannya membuatku tersinggung. Bukan tersinggung, lebih tepatnya aku merasa kecewa sekaligus malu. Malu karena berharap tinggi pada Aga.

Aku tidak ingin melanjutkan obrolan singkatku dengan Aga yang akan berakhir pada kebaperan semata. Jadi, lebih baik aku tidur.

Semoga besok aku nggak ketemu sama Aga, batinku bersuara.

Tapi mustahil, aku satu kelas dengan Aga.

****
Di kelas, aku merasa berbeda dengan sikap Aga. Ia jelas-jelas menjaga jarak denganku. Apalagi semenjak salah satu temanku menjodoh-jodohkan aku dengan dia. Aku jelas merasa asing dengan sikap Aga.

Aga berjalan di hadapanku, melewatiku, tanpa suara. Selalu. Jantung ku berdeyut ngilu.

Hatiku sedikit sakit saat tak sengaja mendengar kabar bahwa Aga berpacaran dengan teman seangkatanku. Padahal, sudah berulang kali aku katakan pada hatiku jika perasaanku pada Aga hanya sementara dan akan hilang dengan sendirinya. Tapi nyatanya, semakin aku mengelak semakin aku sadar jika rasa ini bukan sekedar rasa biasa. Aku jatuh cinta. Dan sialnya, kenapa aku harus menjatuhkan hatiku pada sosok lelaki yang bahkan tak pernah menganggapku ada.

Awalnya, aku hanya menganggap semua perhatian yang ia berikan hanya sebatas candaan belaka dan menganggap rasa  ini hanya sebatas kagum yang mungkin akan hilang dengan sendirinya.
Namun perkiraannku salah, rasa kagum ku berubah menjadi rasa yang sulit untuk ku sangkal.

Hingga detik ini, hampir 3 tahun sekelas dengan Aga. Membuatku semakin susah untuk berpaling. Apalagi ucapan Andre kemarin, membuatku semakin berharap.

"Aga suka sama lo Ay, kalau nggak percaya tanya aja sama Detta."

Seminggu setelah Andre mengatakan itu. Dan sempat membuatku berkhayal jika Aga juga memiliki rasa untukku. Aku mendengar kabar yang  membuat bahuku merosot pelan.

'Aga  pernah menjalin hubungan dengan Afsa, yang tak lain adalah sahabatku sendiri.'

Lalu, selama ini Aga menganggapku apa? Pelampiasan? Ah kalau memang benar Aku harap semua rasa ini berhenti sampai disini. Aku tak bisa terus berharap kepada orang yang hanya bisa menorehkan luka di hatiku. Aku tidak ingin sia-sia menangisi seseorang yang tak memiliki perasaan apapun untuk ku.

......
Langit yang awalnya berwarna biru cerah kini berubah menjadi kelabu pekat. Gumpalan awan hitam itu terbawa oleh hembusan angin yang menutupi sinar mentari yang sempat menampakkan cahaya terangnya padaku.

Tik, satu rintik air menerpa wajahku. Tik, satu rintik lagi menerpa ujung seragamku, begitu seterusnya hingga satu rintik tadi menjadi deras. Hawa dingin berhembus, dan seketika mengingatkanku pada semua kenangan itu.

Ingatan itu kembali lagi, kenangan semasa putih biru ku. Aku merindukan mereka, teman, guru, 'dia' juga sekolahku yang 3 tahun menjadi saksi bisu perjuanganku hingga sampai pada titik ini.

Aku mengambil benda pipih dari kantong seragamku. Mengetik sebuah pesan yang kuharap bisa menghapuskan rasa rinduku pada mereka dan juga 'dia'.

Sudah saatnya aku melangkah maju dan melupakan perasaan yang semakin menumpuk ini. Iya, setelah hampir 2 tahun tidak pernah bertatap muka dengannya, aku tak menyangkal jika rasa ini masih tumbuh di hatiku. Bahkan semakin bertambah. Bukan aku yang tak ingin mencoba melupakan 'dia' yang bahkan tak pernah menjalin hubungan apapun denganku. Kecuali status pertemanan kami selama 5 tahun ini. Tapi kalian pasti tahu, bahwa melupakan seseorang yang kalian anggap spesial itu tidak mudah.

Aku menghapus air mata yang lagi-lagi turun bersama jatuhnya hujan ke bumi. Seolah ikut merasakan luka yang terpendam selama tiga tahun ini.

Aku mencintainya,

Dan aku terluka...

Aksara Luka...

Komentar