Pengen teriak 'Bogo Sipeo' tapi gue keburu sadar, yang gue kangenin tuh siapa? ~ Ainy
Koridor masih sepi saat Sachi sampai di sekolahnya. Ia menilik jam yang melingkar ditangan kirinya. Pukul enam lebih dua menit. Masih terlalu pagi untuk seorang Sachi yang biasanya masuk lima menit sebelum bel berbunyi.
Ia melangkah pelan menyusuri koridor kelas sebelas ini. Kedua bola matanya tak berhenti menengok ke belakang, takut-takut ada orang yang menguntitnya. Meskipun itu hanya ada di khayalannya saja.
Sampai di kelas, ia tersenyum lega. Ia jadi yang pertama masuk untuk hari ini. Masih sepi, hingga Sachi bisa mendengar jelas kicauan burung dari halaman belakang.
Ia mendudukkan bokongnya di bangku tepat saat Mila masuk sambil menerima telepon dari seseorang. Setidaknya ia sedikit bersyukur, karena mungkin saja sahabatnya itu lupa dengan yang terjadi kemarin.
"Iya La, parah banget kan tuh orang. Masa dia pura-pura nggak kenal gitu sama mantannya. Emang dia pikir ini sinetron,"
Sachi berhenti di ambang pintu, ia urungkan niat untuk membuang sampah. Membalikkan badan, lalu melangkah mendekati Mila yang sengaja me-loudspeaker panggilannya.
Ia merebut ponsel Mila dan secara sepihak memutus panggilan itu, "Nggak usah nyindir dong," ketusnya sambil melotot ke arah Mila.
"Apaan sih," sahut Mila, merebut kembali ponselnya lalu berjalan menuju bangku miliknya.
Sachi masih setia mengekor dari belakang.
"Kalau ngerasa sih alhamdulilah aja, berarti lo masih punya rasa." Ucapnya ketus.
Sachi mencibir. Duduk disebelah Mila, mengamati ekspresi Mila yang ia tahu dalam mode ngambek dengan dirinya. Bibirnya mengerucut mirip bebek kalau menurut Sachi.
"Gue minta maaf deh ya,"
Mila masih diam dan tidak peduli.
Sachi melengos panjang, sudah hafal dengan tingkah cewek disebelahnya ini. Ia melanjutkan celotehannya, "Mil! Kayak anak kecil deh gitu aja ngambek. Gue bisa jelasin semuanya kok, ya ya."
Ia mengguncang pelan bahu Mila, tapi Mila masih diam tak berkutik. Terlalu fokus memandang ponsel yang hanya menampilkan ikon dari beberapa aplikasi yang baru diunduhnya kemarin.
Mila diam dan tidak menganggapi celotehan Sachi.
Namun, Sachi juga tidak menyerah. Ia masih berusaha membujuk sahabatnya itu. Sachi akan berhenti jika Mila sudah mau bicara dengannya. Itu yang ia harapkan.
"Mil, ayolah. Gue jelasin semuanya sama lo kok. Tapi lo ngomong dong jangan diem terus, gue kan takut. Tuh anak yang lain juga ngiranya lo kesurupan tau,"
Dengan segala kepasrahannya, Mila akhirnya menatap Sachi yang kali ini memasang binar bahagia di kedua matanya. Mila berdecih. Seharusnya yang lebih pantas menyandang julukan kekanakan disini, Sachi kan?
"Jelasin sekarang! No buts!"
Sachi masih memasang wajah sok polosnya itu, lalu menceritakan semuanya. Dari awal bertemu Kavin hingga menjalin hubungan dan putus dengan cowok tampan itu. Hingga dia yang harus dibawa ke psikiater karena suatu hal. Intinya masih berhubungan.
"Dan lo masih suka sama dia?" Tebaknya langsung.
Sachi menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya sudah pias dan Mila menyadari itu. Ia menepuk lembut punggung sahabatnya itu. "Aduh susah juga sih ngadepin manusia gagal move on kayak lo gini," Sachi mencebik ditempatnya.
Kini Mila tahu, alasan Sachi merahasiakan bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan Kavin. Dari cerita Sachi, Mila menyimpulkan bahwa dari hubungan tersebut hanya Sachi yang memiliki rasa sayang sedangkan Kavin hanya menjadikannya taruhan. Tapi ia tahu, ada alasan lain mengapa Sachi memilih tidak mengenal Kavin. Mungkin, belum saatnya ia mengetahuinya. Akan ada waktunya Sachi akan menceritakan langsung padanya. Mila yakin itu.
"Terus gimana dong sama misi ini?"
"Lanjut lah. Soal perasaan gue bisa diatur. Yang jelas misi ini harus berhasil." Jawab Sachi mantap tanpa keraguan sama sekali.
Mila menatap nanar Sachi. Senyum diwajah cewek itu hanya topeng belaka. Ia tahu Sachi hanya mencoba tegar.
"Aduh, apa sih Si. Kok lo nampol gue sih? Sakit gila," keluhnya, karena pipinya baru saja ditampol Sachi.
Sachi nyengir tak bersalah, "Lagian lo sih, pake acara mewek segala. Gue strong kok." Kekehnya pelan.
"Stres tak tertolong?"
"Iya, itu lo tau pinter." Tawanya pecah setelah itu dan hanya dibalas lirikan sinis Mila.
Setelah itu hening diantara mereka. Mila sibuk membaca novel miliknya setelah sadar bahwa kuotanya habis dan sialnya ia lupa password Wi-Fi sekolah. Sedangkan Sachi, sibuk dengan game baru di ponselnya. Keadaan kelas juga sudah tak sepi seperti tadi. Hampir separuh anggota kelas ini sudah masuk, membuat suasana sedikit amburadul.
"Woy, Sachi dipanggil tuh didepan." Teriak Eno, cewek tomboy dari kelas sebelah yang sering nyamperin Edo, pacarnya di kelas ini.
Sachi mengerutkan kening begitu juga dengan Mila. Masih enggan beranjak dari bangku meski ia mendengar jelas teriakan Eno. Lagian, siapa yang mencarinya. Sejak enam bulan berada di sekolah ini, tidak ada yang pernah mencarinya. Ia tipe orang yang susah bersosialisasi dan ia tidak merasa punya teman atau sekedar kenalan dari kelas lain.
"Kok lo nggak keluar sih, kali aja penting kan." Bujuk Mila.
Ia menghela nafas berat, "Nggak. Orang iseng palingan." Ia kembali menekan tombol play di ponselnya. Tak peduli dengan teriakan Eno atau bujuk rayu Mila.
Menyerah membujuk Sachi yang terlahir keras kepala. Mila memutuskan merebut kembali novel miliknya dari Sachi yang seketika melirik sinis dirinya.
Suara bisik-bisik teman sekelasnya membuat Sachi menjeda game di ponselnya. Ia menolehkan pandangannya ke pintu kelas lalu secepat kilat menunduk.
Kavin berdiri tepat di depan kelasnya. Ia berani bersumpah setelah kejadian kemarin, Kavin tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia mengeratkan pegangannya pada tali tasnya, ketika sepasang sepatu Converse yang entah sejak kapan mengisi pandangannya.
Sachi mengangkat kepalanya. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan orang didepannya ini memang benar Kavin. Ia limbung dan setelahnya ia tak ingat apapun.
1 menit
2 menit
3 menit
Mila bernafas lega karena sahabatnya itu sudah sadar. Kavin masih berada disini, menunggu Sachi sadar.
Sachi mengerjapkan matanya. Mencoba bangun dan menatap satu persatu temannya. Hingga tatapannya berhenti pada satu titik. Kavin.
"Lo siapa?" Tanya Sachi polos, sontak seisi kelas langsung berbisik-bisik mengira gadis itu amnesia dadakan. Bahkan, Mila yang berada disampingnya dibuat melongo dan hampir menjitak kepala Sachi kalau saja tak ada Kavin disini.
Kavin tertawa. Hal yang sangat jarang dilakukannya. Sedetik kemudian, ia menatap serius Sachi yang masih memandangnya dengan tatapan polos.
Ia berdecak. "Lo nggak amnesia dadakan kan?"
"Amnesia? Mana mungkin!!" Itu suara Mila yang langsung membekap mulutnya begitu Kavin meliriknya tajam.
"Sisi? Lo denger gue kan?" Tanya Kavin sekali lagi.
"Gu—gue nggak amnesia kok. Gue inget Mila." Jawab Sachi menunjuk Mila. Membuat Mila bernafas lega. "Tapi gue nggak kenal lo. Boleh kita kenalan nggak?"
Mila melongo. Begitu juga Kavin.
"Si, ini bukan sinetron. Dan lo nggak perlu akting kayak gitu. Sumpah, akting lo jelek banget Si!" Ucap Mila yang gemas dengan Sachi. Tapi ia juga tahu, sahabatnya itu tidak sedang berakting. Ia kenal Sachi.
"Gue nggak lagi akting Mil. Lo nggak liat apa, nih cowok ganteng banget. Lo pasti kenal kan Mil. Namanya siapa Mil?"
"Kok dia pergi sih. Dia nggak mau kenalan sama gue ya. Gue jelek ya Mil, duh harusnya tadi gue pake make up punya lo dulu. Ah lo sih, nggak bilangin gue kalau ada cowok cakep," beonya sesaat.
Mila menatap prihatin kepergian Kavin yang sepertinya dalam kondisi tidak benar-benar baik. Ia menoleh pada Sachi yang masih memasang wajah super bloon yang sumpah demi bokong seksinya mbak Kendall ingin dia tendang saking kesalnya.
Sachi menatap heran pada teman sekelasnya yang berbisik-bisik tentangnya yang amnesia. Ia menggeplak kepalanya sendiri dan berakhir ringisan dari mulutnya karena kepalanya yang kembali berdenyut.
Merapikan poninya yang melenceng karena insiden tadi. Sachi melangkah keluar, berusaha menyeimbangkan langkahnya yang agak sempoyongan. Baru melangkah dua meter, suara Mila menginterupsinya.
"Lo nggak mau bunuh diri kan Si," Mila kontan meringis saat tangan Jessi dengan tak manusiawi menggeplak kepalanya.
"Nggak usah ngaco! Gue mau buang sampah!" jawab Sachi kesal.
"Yee, santai dong nggak usah ngegas. Bisa aja kan, abis pura-pura amnesia dan nglupain mantan sendiri jadi nyesel terus bunuh diri deh."
"Amnesia? Mantan? Lo ngomingin siapa deh," Sachi tertawa renyah, mengambil botol air minum temannya setelah meminta ijin terlebih dahulu tentunya. Ia meminumya, mengusap dagunya yang sedikit basah lalu berjalan keluar kelas. Tak menghiraukan Mila yang mengaung dibelakangnya. "Tau ah, gue mau nyamperin Pangeran gue, mau gue ajak ehem ehem. Kali aja jadi bocah" ucapnya disertai cengiran lebarnya, lalu keluar setelah menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
Mila melongo ditempatnya.
"Fiks, dia beneran gila!"
°°°°°
Jam pertama ternyata digunakan para guru untuk rapat sehingga jam kosong dan membuat beberapa kelas tidak kondusif. Padahal guru yang mengajar sudah berpesan agar kelas tetap tenang, tapi namanya jam kosong mana boleh dilewatkan begitu saja.
Lapangan basket yang biasanya hanya ramai saat ada pelajaran olahraga mendadak ramai oleh murid kelas 12 yang sejak pagi tadi sudah berada disana.
Kavin duduk tenang di bangku penonton. Menggenggam ponsel yang menampilkan profil Instagram seorang gadis yang sedang tersenyum menatap kamera. Katakanlah ia seorang stalker. Ia menggulir pelan layar ponselnya, menatap setiap entah foto atau video boomerang yang pemilik akun itu posting. Hanya ada beberapa postingan yang berisi foto sang pemilik akun, dan foto langit yang sangat artistik. Serta dibawahnya dibubuhi caption ala quotes. Hingga tak sengaja ia memberi tanda love pada postingan yang diposting satu tahun lalu itu. Dan itu sudah lama. Ia merutuki tindakannya itu. Ia segera menghapus love tersebut dan berharap sang pemilik akun tak sadar jika ada yang diam-diam melihat akun miliknua.
Seketika ia teringat alasan mengapa dirinya berada disini. Ia masih ragu, apa iya hanya karna pingsan yang tak lebih dari lima menit seseorang bisa kehilangan ingatannya. Masih bisa dinalar jika saat pingsan seseorang itu kepalanya kepentok aspal lalu tertabrak gerobag sampah. Eh Astagfirullahalazim.
"Huwaaa akhirnya setelah sekian lama, ada juga cogan yang nge-love postingan gue"
Suara lengkingan yang terasa familiar ditelinganya mengalihkan pandangannya pada seorang siswi yang berdiri lima meter dari tempatnua ini. Kavin memicingkan matanya karena jelas ia kenal siapa pemilik suara mirip tikut kejepit itu. Yaampun
"Ahh ini kan Kak cogan tadi. Eh itu dia, Kak cogan!"
Buru-buru Kavin berdiri, pura-pura tuli atau apapun itu karena harapannya kali ini cuma satu. Hindari Sachi.
Tapi terlambat, rupanya ia kalah gesit dengan gadis berkuncir kuda yang kini telah berada dihadapannya. Matanya berbinar ketika tak sengaja pandangan mereka beradu. Kavin buru-buru mengalihkan pandangannya. Jantungnya, astaga gadis itu.
Sachi berbinar meskipun peluh mengalir di pelipisnya. Ia juga masih sibuk mengatur ritme nafasnya yang berdetak lebih cepat dari biasa.
Sebenarnya, niat utamanya kesini untuk membayar pesanan barang dari salah seorang kakak kelas yang kebetulan mengajaknya bertemu di lapangan basket ini. Setelah, kakak kelasnya itu pergi ia berniat kembali ke kelas sebelum notifikasi dari Instagram membuat matanya membulat. Meskipun beberapa detik kemudian notif itu hilang. Tapi jelas, ia mengingat nama akun yang sempat nangkring memberi love pada salah satu postingan yang sudah lama sekali. R_Kavin. Itulah pemilik akun tersebut. Sang stalker tak terduganya.
"Ngapain lo senyam senyum sendiri. Setelah amnesia dadakan, sekarang jadi gila ya." Sachi mendelik kaget. Menatap Kavin yang saat ini juga menatapnya.
Gadis itu mengibas pelan tangannya, tersenyum manis. "Tergila-gila sama Kak Kavin tepatnya," senyumnya merekah sempurna.
Wajah Kavin datar melebihi datarnya papan triplek. Alisnya naik satu, bibirnya menyeringai sinis. Lebih tepatnya seperti tatapan mengejek. Ia heran, sejak kapan Jessi yang setaunya dulu lemah lembut berubah jadi gadis genit yang tak tahu malu seperti ini. Apa putus darinya membuat saraf di otaknya sedikir terputus?
"Tuh, liat wajah Kakak tuh ganteng pake banget. Nah nah, nih liat sebelahan sama Chanyeol Oppa kayak adek kakak." Tunjuk Jessi pada layar ponsel dimana foto Kavin di edit bersebelahan dengan salah satu anggota boy grup dari negeri ginseng tersebut.
Alis Kavin semakin menukik tajam. Diliriknya gadis itu, masih tersenyum lebar seolah tak sadar ada yang menatapnya tajam dari tadi.
"Beruntung banget cewek yang jadi pacar Chanyeol Oppa," dari matanya Kavin bisa melihat tatapan memuja gadis itu pada foto di ponselnya.
"Berarti lo juga termasuk kategori cewek beruntung dong?" tanyanya menyadarkan Jessi dari khayalan ala bucin.
Mata belonya membulat, membuat Kavin mengucap Istighfar dalam hati berharap tak ada rasa yang bersarang setelah mata bulat itu menatapnya. Jangan sampai, "Maksudnya aku bakalan pacaran sama Ceye Oppa? Kalau itu sih aku juga mau."
Kali ini Kavin yang membulatkan matanya. Ini dia yang kurang kode atau Sachi yang nggak peka sih. Ah susahnya jadi bucin.
Kavin beranjak dari duduknya, melirik sekilas Sachi yang masih tersenyum lebar. Ia bergidik ngeri. Mungkin kekhawatirannya benar, Sachi benar-benar gila.
"Loh loh, Kak Kavin mau kemana. Kok ninggalin aku sih, jelasin dulu dong maksudnya tadi apa?" Tangan Sachi menarik pergelangan tangan Kavin yang langsung ditepis oleh pemuda itu.
Boro-boro dapat senyum pemuda yang dapat julukan Prince itu. Ini malah dapat tatapan sinis dan tak bersahabat terus.
Kavin membalikkan badannya, "Lo tuh pura-pura atau beneran sih?" Ia berteriak frustrasi.
"Pura-pura apasih?" ucapnya polos.
"Lo nggak ingat kalau kita pernah punya hubungan?"
Otak mini Sachi dipaksa mengingat apa yang dirinya sendiri tidak tahu jawabannya apa. Perasaan ini kali pertama ia mengenal Kavin. Dan entah benar atau tidak, mungkin Sachi kena amnesia dadakan. Sejenis penyakit lupa mantan. Iya, cuma mantan yang dilupain.
Akhirnya, ia hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia bisa melihat ekspresi Kavin yang tampak terlihat terluka?
"Oh, oke" Sachi melongo, sesingkat itukah jawaban Kavin.
"Kak Kavin mau pergi?"
"Kenapa?" Bukannya menjawab Kavin malah balik bertanya. Menyipitkan matanya karena sinar matahari yang menyilaukan. Dan itu membuat gadis di depannya itu terlihat, memukau?
Kavin memerhatikan Sachi yang hanya diam setelah sempat menghela nafas berat. Matanya memindai setiap inci tubuh gadis itu. Seragamnya seperti murid perempuan biasanya, panjang rok selutut dan atasan pas tidak lebih juga tidak ketat. Rambutnya ikal diikat poni dibelakang. Masih sama seperti beberapa tahun lalu, pikir Kavin. Tak banyak yang berubah dari Sachi, ia masih gadis polos dan Kavin menyukainya.
Tapi boong.
"Eh gimana ya. Kak Kavin nggak marah kan?" tanyanya polos.
Sachi mengerjap kaget karena pergelangan tangannya sudah ditarik Kavin. Lembut, itu yang ia rasakan. Ia tak sempat bertanya karena cowok itu berjalan cepat. Bahkan tubuhnya hampir jatuh kalau saja Kavin tak menariknya sehingga mereka bertubrukan. Nyaris tak ada jarak. Dan jantungnya. Mungkin efek belum sarapan, sehingga jantungnya berdegup kencang hanya karena ditatap cowok itu.
"Enggak,"
Eh perasaan disini hanya ada mereka berdua. Dan lagi, ia sedang tidak bertanya pada cowok itu. Lalu siapa yang diajak bicara cowok itu? Mbak kunti atau genderuwo yang suka mangkal di pohon belakang sekolah?
"Jawaban pertanyaan lo tadi. Gue nggak marah." jelasnya seolah tahu yang ada di pikiran Sachi.
"Terus, kok mukanya keruh gitu sih. Aku nggak bikin salah sama Kak Kavin kan?"
"Iya,"
Ketika mendengar itu, Sachi menegang. Ia salah apa coba? Adanya tuh Kavin yang punya salah karena membawa dirinya bolos dan malah mengajak ke rooftop. Melanggar aturan. Harusnya Kavin dihukum.
"Salah lo banyak,"
"Ish nggak mungkin lah. Sejak kapan aku bikin salah sama Kak Kavin,"
"Tiga tahun lalu,"
Apa katanya, tiga tahun lalu?
****
Akun Wattpad: @Pinkaichi
Koridor masih sepi saat Sachi sampai di sekolahnya. Ia menilik jam yang melingkar ditangan kirinya. Pukul enam lebih dua menit. Masih terlalu pagi untuk seorang Sachi yang biasanya masuk lima menit sebelum bel berbunyi.
Ia melangkah pelan menyusuri koridor kelas sebelas ini. Kedua bola matanya tak berhenti menengok ke belakang, takut-takut ada orang yang menguntitnya. Meskipun itu hanya ada di khayalannya saja.
Sampai di kelas, ia tersenyum lega. Ia jadi yang pertama masuk untuk hari ini. Masih sepi, hingga Sachi bisa mendengar jelas kicauan burung dari halaman belakang.
Ia mendudukkan bokongnya di bangku tepat saat Mila masuk sambil menerima telepon dari seseorang. Setidaknya ia sedikit bersyukur, karena mungkin saja sahabatnya itu lupa dengan yang terjadi kemarin.
"Iya La, parah banget kan tuh orang. Masa dia pura-pura nggak kenal gitu sama mantannya. Emang dia pikir ini sinetron,"
Sachi berhenti di ambang pintu, ia urungkan niat untuk membuang sampah. Membalikkan badan, lalu melangkah mendekati Mila yang sengaja me-loudspeaker panggilannya.
Ia merebut ponsel Mila dan secara sepihak memutus panggilan itu, "Nggak usah nyindir dong," ketusnya sambil melotot ke arah Mila.
"Apaan sih," sahut Mila, merebut kembali ponselnya lalu berjalan menuju bangku miliknya.
Sachi masih setia mengekor dari belakang.
"Kalau ngerasa sih alhamdulilah aja, berarti lo masih punya rasa." Ucapnya ketus.
Sachi mencibir. Duduk disebelah Mila, mengamati ekspresi Mila yang ia tahu dalam mode ngambek dengan dirinya. Bibirnya mengerucut mirip bebek kalau menurut Sachi.
"Gue minta maaf deh ya,"
Mila masih diam dan tidak peduli.
Sachi melengos panjang, sudah hafal dengan tingkah cewek disebelahnya ini. Ia melanjutkan celotehannya, "Mil! Kayak anak kecil deh gitu aja ngambek. Gue bisa jelasin semuanya kok, ya ya."
Ia mengguncang pelan bahu Mila, tapi Mila masih diam tak berkutik. Terlalu fokus memandang ponsel yang hanya menampilkan ikon dari beberapa aplikasi yang baru diunduhnya kemarin.
Mila diam dan tidak menganggapi celotehan Sachi.
Namun, Sachi juga tidak menyerah. Ia masih berusaha membujuk sahabatnya itu. Sachi akan berhenti jika Mila sudah mau bicara dengannya. Itu yang ia harapkan.
"Mil, ayolah. Gue jelasin semuanya sama lo kok. Tapi lo ngomong dong jangan diem terus, gue kan takut. Tuh anak yang lain juga ngiranya lo kesurupan tau,"
Dengan segala kepasrahannya, Mila akhirnya menatap Sachi yang kali ini memasang binar bahagia di kedua matanya. Mila berdecih. Seharusnya yang lebih pantas menyandang julukan kekanakan disini, Sachi kan?
"Jelasin sekarang! No buts!"
Sachi masih memasang wajah sok polosnya itu, lalu menceritakan semuanya. Dari awal bertemu Kavin hingga menjalin hubungan dan putus dengan cowok tampan itu. Hingga dia yang harus dibawa ke psikiater karena suatu hal. Intinya masih berhubungan.
"Dan lo masih suka sama dia?" Tebaknya langsung.
Sachi menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya sudah pias dan Mila menyadari itu. Ia menepuk lembut punggung sahabatnya itu. "Aduh susah juga sih ngadepin manusia gagal move on kayak lo gini," Sachi mencebik ditempatnya.
Kini Mila tahu, alasan Sachi merahasiakan bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan Kavin. Dari cerita Sachi, Mila menyimpulkan bahwa dari hubungan tersebut hanya Sachi yang memiliki rasa sayang sedangkan Kavin hanya menjadikannya taruhan. Tapi ia tahu, ada alasan lain mengapa Sachi memilih tidak mengenal Kavin. Mungkin, belum saatnya ia mengetahuinya. Akan ada waktunya Sachi akan menceritakan langsung padanya. Mila yakin itu.
"Terus gimana dong sama misi ini?"
"Lanjut lah. Soal perasaan gue bisa diatur. Yang jelas misi ini harus berhasil." Jawab Sachi mantap tanpa keraguan sama sekali.
Mila menatap nanar Sachi. Senyum diwajah cewek itu hanya topeng belaka. Ia tahu Sachi hanya mencoba tegar.
"Aduh, apa sih Si. Kok lo nampol gue sih? Sakit gila," keluhnya, karena pipinya baru saja ditampol Sachi.
Sachi nyengir tak bersalah, "Lagian lo sih, pake acara mewek segala. Gue strong kok." Kekehnya pelan.
"Stres tak tertolong?"
"Iya, itu lo tau pinter." Tawanya pecah setelah itu dan hanya dibalas lirikan sinis Mila.
Setelah itu hening diantara mereka. Mila sibuk membaca novel miliknya setelah sadar bahwa kuotanya habis dan sialnya ia lupa password Wi-Fi sekolah. Sedangkan Sachi, sibuk dengan game baru di ponselnya. Keadaan kelas juga sudah tak sepi seperti tadi. Hampir separuh anggota kelas ini sudah masuk, membuat suasana sedikit amburadul.
"Woy, Sachi dipanggil tuh didepan." Teriak Eno, cewek tomboy dari kelas sebelah yang sering nyamperin Edo, pacarnya di kelas ini.
Sachi mengerutkan kening begitu juga dengan Mila. Masih enggan beranjak dari bangku meski ia mendengar jelas teriakan Eno. Lagian, siapa yang mencarinya. Sejak enam bulan berada di sekolah ini, tidak ada yang pernah mencarinya. Ia tipe orang yang susah bersosialisasi dan ia tidak merasa punya teman atau sekedar kenalan dari kelas lain.
"Kok lo nggak keluar sih, kali aja penting kan." Bujuk Mila.
Ia menghela nafas berat, "Nggak. Orang iseng palingan." Ia kembali menekan tombol play di ponselnya. Tak peduli dengan teriakan Eno atau bujuk rayu Mila.
Menyerah membujuk Sachi yang terlahir keras kepala. Mila memutuskan merebut kembali novel miliknya dari Sachi yang seketika melirik sinis dirinya.
Suara bisik-bisik teman sekelasnya membuat Sachi menjeda game di ponselnya. Ia menolehkan pandangannya ke pintu kelas lalu secepat kilat menunduk.
Kavin berdiri tepat di depan kelasnya. Ia berani bersumpah setelah kejadian kemarin, Kavin tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia mengeratkan pegangannya pada tali tasnya, ketika sepasang sepatu Converse yang entah sejak kapan mengisi pandangannya.
Sachi mengangkat kepalanya. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan orang didepannya ini memang benar Kavin. Ia limbung dan setelahnya ia tak ingat apapun.
1 menit
2 menit
3 menit
Mila bernafas lega karena sahabatnya itu sudah sadar. Kavin masih berada disini, menunggu Sachi sadar.
Sachi mengerjapkan matanya. Mencoba bangun dan menatap satu persatu temannya. Hingga tatapannya berhenti pada satu titik. Kavin.
"Lo siapa?" Tanya Sachi polos, sontak seisi kelas langsung berbisik-bisik mengira gadis itu amnesia dadakan. Bahkan, Mila yang berada disampingnya dibuat melongo dan hampir menjitak kepala Sachi kalau saja tak ada Kavin disini.
Kavin tertawa. Hal yang sangat jarang dilakukannya. Sedetik kemudian, ia menatap serius Sachi yang masih memandangnya dengan tatapan polos.
Ia berdecak. "Lo nggak amnesia dadakan kan?"
"Amnesia? Mana mungkin!!" Itu suara Mila yang langsung membekap mulutnya begitu Kavin meliriknya tajam.
"Sisi? Lo denger gue kan?" Tanya Kavin sekali lagi.
"Gu—gue nggak amnesia kok. Gue inget Mila." Jawab Sachi menunjuk Mila. Membuat Mila bernafas lega. "Tapi gue nggak kenal lo. Boleh kita kenalan nggak?"
Mila melongo. Begitu juga Kavin.
"Si, ini bukan sinetron. Dan lo nggak perlu akting kayak gitu. Sumpah, akting lo jelek banget Si!" Ucap Mila yang gemas dengan Sachi. Tapi ia juga tahu, sahabatnya itu tidak sedang berakting. Ia kenal Sachi.
"Gue nggak lagi akting Mil. Lo nggak liat apa, nih cowok ganteng banget. Lo pasti kenal kan Mil. Namanya siapa Mil?"
"Kok dia pergi sih. Dia nggak mau kenalan sama gue ya. Gue jelek ya Mil, duh harusnya tadi gue pake make up punya lo dulu. Ah lo sih, nggak bilangin gue kalau ada cowok cakep," beonya sesaat.
Mila menatap prihatin kepergian Kavin yang sepertinya dalam kondisi tidak benar-benar baik. Ia menoleh pada Sachi yang masih memasang wajah super bloon yang sumpah demi bokong seksinya mbak Kendall ingin dia tendang saking kesalnya.
Sachi menatap heran pada teman sekelasnya yang berbisik-bisik tentangnya yang amnesia. Ia menggeplak kepalanya sendiri dan berakhir ringisan dari mulutnya karena kepalanya yang kembali berdenyut.
Merapikan poninya yang melenceng karena insiden tadi. Sachi melangkah keluar, berusaha menyeimbangkan langkahnya yang agak sempoyongan. Baru melangkah dua meter, suara Mila menginterupsinya.
"Lo nggak mau bunuh diri kan Si," Mila kontan meringis saat tangan Jessi dengan tak manusiawi menggeplak kepalanya.
"Nggak usah ngaco! Gue mau buang sampah!" jawab Sachi kesal.
"Yee, santai dong nggak usah ngegas. Bisa aja kan, abis pura-pura amnesia dan nglupain mantan sendiri jadi nyesel terus bunuh diri deh."
"Amnesia? Mantan? Lo ngomingin siapa deh," Sachi tertawa renyah, mengambil botol air minum temannya setelah meminta ijin terlebih dahulu tentunya. Ia meminumya, mengusap dagunya yang sedikit basah lalu berjalan keluar kelas. Tak menghiraukan Mila yang mengaung dibelakangnya. "Tau ah, gue mau nyamperin Pangeran gue, mau gue ajak ehem ehem. Kali aja jadi bocah" ucapnya disertai cengiran lebarnya, lalu keluar setelah menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
Mila melongo ditempatnya.
"Fiks, dia beneran gila!"
°°°°°
Jam pertama ternyata digunakan para guru untuk rapat sehingga jam kosong dan membuat beberapa kelas tidak kondusif. Padahal guru yang mengajar sudah berpesan agar kelas tetap tenang, tapi namanya jam kosong mana boleh dilewatkan begitu saja.
Lapangan basket yang biasanya hanya ramai saat ada pelajaran olahraga mendadak ramai oleh murid kelas 12 yang sejak pagi tadi sudah berada disana.
Kavin duduk tenang di bangku penonton. Menggenggam ponsel yang menampilkan profil Instagram seorang gadis yang sedang tersenyum menatap kamera. Katakanlah ia seorang stalker. Ia menggulir pelan layar ponselnya, menatap setiap entah foto atau video boomerang yang pemilik akun itu posting. Hanya ada beberapa postingan yang berisi foto sang pemilik akun, dan foto langit yang sangat artistik. Serta dibawahnya dibubuhi caption ala quotes. Hingga tak sengaja ia memberi tanda love pada postingan yang diposting satu tahun lalu itu. Dan itu sudah lama. Ia merutuki tindakannya itu. Ia segera menghapus love tersebut dan berharap sang pemilik akun tak sadar jika ada yang diam-diam melihat akun miliknua.
Seketika ia teringat alasan mengapa dirinya berada disini. Ia masih ragu, apa iya hanya karna pingsan yang tak lebih dari lima menit seseorang bisa kehilangan ingatannya. Masih bisa dinalar jika saat pingsan seseorang itu kepalanya kepentok aspal lalu tertabrak gerobag sampah. Eh Astagfirullahalazim.
"Huwaaa akhirnya setelah sekian lama, ada juga cogan yang nge-love postingan gue"
Suara lengkingan yang terasa familiar ditelinganya mengalihkan pandangannya pada seorang siswi yang berdiri lima meter dari tempatnua ini. Kavin memicingkan matanya karena jelas ia kenal siapa pemilik suara mirip tikut kejepit itu. Yaampun
"Ahh ini kan Kak cogan tadi. Eh itu dia, Kak cogan!"
Buru-buru Kavin berdiri, pura-pura tuli atau apapun itu karena harapannya kali ini cuma satu. Hindari Sachi.
Tapi terlambat, rupanya ia kalah gesit dengan gadis berkuncir kuda yang kini telah berada dihadapannya. Matanya berbinar ketika tak sengaja pandangan mereka beradu. Kavin buru-buru mengalihkan pandangannya. Jantungnya, astaga gadis itu.
Sachi berbinar meskipun peluh mengalir di pelipisnya. Ia juga masih sibuk mengatur ritme nafasnya yang berdetak lebih cepat dari biasa.
Sebenarnya, niat utamanya kesini untuk membayar pesanan barang dari salah seorang kakak kelas yang kebetulan mengajaknya bertemu di lapangan basket ini. Setelah, kakak kelasnya itu pergi ia berniat kembali ke kelas sebelum notifikasi dari Instagram membuat matanya membulat. Meskipun beberapa detik kemudian notif itu hilang. Tapi jelas, ia mengingat nama akun yang sempat nangkring memberi love pada salah satu postingan yang sudah lama sekali. R_Kavin. Itulah pemilik akun tersebut. Sang stalker tak terduganya.
"Ngapain lo senyam senyum sendiri. Setelah amnesia dadakan, sekarang jadi gila ya." Sachi mendelik kaget. Menatap Kavin yang saat ini juga menatapnya.
Gadis itu mengibas pelan tangannya, tersenyum manis. "Tergila-gila sama Kak Kavin tepatnya," senyumnya merekah sempurna.
Wajah Kavin datar melebihi datarnya papan triplek. Alisnya naik satu, bibirnya menyeringai sinis. Lebih tepatnya seperti tatapan mengejek. Ia heran, sejak kapan Jessi yang setaunya dulu lemah lembut berubah jadi gadis genit yang tak tahu malu seperti ini. Apa putus darinya membuat saraf di otaknya sedikir terputus?
"Tuh, liat wajah Kakak tuh ganteng pake banget. Nah nah, nih liat sebelahan sama Chanyeol Oppa kayak adek kakak." Tunjuk Jessi pada layar ponsel dimana foto Kavin di edit bersebelahan dengan salah satu anggota boy grup dari negeri ginseng tersebut.
Alis Kavin semakin menukik tajam. Diliriknya gadis itu, masih tersenyum lebar seolah tak sadar ada yang menatapnya tajam dari tadi.
"Beruntung banget cewek yang jadi pacar Chanyeol Oppa," dari matanya Kavin bisa melihat tatapan memuja gadis itu pada foto di ponselnya.
"Berarti lo juga termasuk kategori cewek beruntung dong?" tanyanya menyadarkan Jessi dari khayalan ala bucin.
Mata belonya membulat, membuat Kavin mengucap Istighfar dalam hati berharap tak ada rasa yang bersarang setelah mata bulat itu menatapnya. Jangan sampai, "Maksudnya aku bakalan pacaran sama Ceye Oppa? Kalau itu sih aku juga mau."
Kali ini Kavin yang membulatkan matanya. Ini dia yang kurang kode atau Sachi yang nggak peka sih. Ah susahnya jadi bucin.
Kavin beranjak dari duduknya, melirik sekilas Sachi yang masih tersenyum lebar. Ia bergidik ngeri. Mungkin kekhawatirannya benar, Sachi benar-benar gila.
"Loh loh, Kak Kavin mau kemana. Kok ninggalin aku sih, jelasin dulu dong maksudnya tadi apa?" Tangan Sachi menarik pergelangan tangan Kavin yang langsung ditepis oleh pemuda itu.
Boro-boro dapat senyum pemuda yang dapat julukan Prince itu. Ini malah dapat tatapan sinis dan tak bersahabat terus.
Kavin membalikkan badannya, "Lo tuh pura-pura atau beneran sih?" Ia berteriak frustrasi.
"Pura-pura apasih?" ucapnya polos.
"Lo nggak ingat kalau kita pernah punya hubungan?"
Otak mini Sachi dipaksa mengingat apa yang dirinya sendiri tidak tahu jawabannya apa. Perasaan ini kali pertama ia mengenal Kavin. Dan entah benar atau tidak, mungkin Sachi kena amnesia dadakan. Sejenis penyakit lupa mantan. Iya, cuma mantan yang dilupain.
Akhirnya, ia hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia bisa melihat ekspresi Kavin yang tampak terlihat terluka?
"Oh, oke" Sachi melongo, sesingkat itukah jawaban Kavin.
"Kak Kavin mau pergi?"
"Kenapa?" Bukannya menjawab Kavin malah balik bertanya. Menyipitkan matanya karena sinar matahari yang menyilaukan. Dan itu membuat gadis di depannya itu terlihat, memukau?
Kavin memerhatikan Sachi yang hanya diam setelah sempat menghela nafas berat. Matanya memindai setiap inci tubuh gadis itu. Seragamnya seperti murid perempuan biasanya, panjang rok selutut dan atasan pas tidak lebih juga tidak ketat. Rambutnya ikal diikat poni dibelakang. Masih sama seperti beberapa tahun lalu, pikir Kavin. Tak banyak yang berubah dari Sachi, ia masih gadis polos dan Kavin menyukainya.
Tapi boong.
"Eh gimana ya. Kak Kavin nggak marah kan?" tanyanya polos.
Sachi mengerjap kaget karena pergelangan tangannya sudah ditarik Kavin. Lembut, itu yang ia rasakan. Ia tak sempat bertanya karena cowok itu berjalan cepat. Bahkan tubuhnya hampir jatuh kalau saja Kavin tak menariknya sehingga mereka bertubrukan. Nyaris tak ada jarak. Dan jantungnya. Mungkin efek belum sarapan, sehingga jantungnya berdegup kencang hanya karena ditatap cowok itu.
"Enggak,"
Eh perasaan disini hanya ada mereka berdua. Dan lagi, ia sedang tidak bertanya pada cowok itu. Lalu siapa yang diajak bicara cowok itu? Mbak kunti atau genderuwo yang suka mangkal di pohon belakang sekolah?
"Jawaban pertanyaan lo tadi. Gue nggak marah." jelasnya seolah tahu yang ada di pikiran Sachi.
"Terus, kok mukanya keruh gitu sih. Aku nggak bikin salah sama Kak Kavin kan?"
"Iya,"
Ketika mendengar itu, Sachi menegang. Ia salah apa coba? Adanya tuh Kavin yang punya salah karena membawa dirinya bolos dan malah mengajak ke rooftop. Melanggar aturan. Harusnya Kavin dihukum.
"Salah lo banyak,"
"Ish nggak mungkin lah. Sejak kapan aku bikin salah sama Kak Kavin,"
"Tiga tahun lalu,"
Apa katanya, tiga tahun lalu?
****
Akun Wattpad: @Pinkaichi
Komentar
Posting Komentar