Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa
Yang tepat
Di waktu yang salah
Fiersa Besari ~ Waktu Yang Salah
Bagian 3~ dia kenapa?
Bukan tentang rasa yang tepat di waktu yang salah. Ini tentang rasa yang dipaksa bertahan meski tahu takkan terbalaskan...
Dariku, untukmu yang merasa๐
-----------------------------------------------------------------
Suasana kamar Mila terbilang cukup ramai oleh suara musik yang gadis itu putar dari speaker miliknya. Tania, tetangga sebelah rumahnya pun sudah pulang setelah meminjam buku resep masakan milik sang Mama. Sedangkan sekarang, ia duduk ditepi ranjang karena sisi tengah sudah di tempati Sachi yang asik tiduran disana.
"Bangun dong Chi, katanya tadi mau curhat. Gue udah siap lo nya malah tiduran. Sebenarnya yang butuh gue atau lo sih. Eh woy kebo, bangun. Gue ambilin air beneran nih ya!"
Sachi menggeliat, menarik tangan Mila yang hendak beranjak sehingga Mila terhuyung jatuh menimpa tubuh Sachi.
"Aduuuhh, lo makan apaan sih Mil. Badan gue sakit banget gilakkk!! Bangun nggak lo!"
"Auuh, lo sih narik gue segala. Salah lo sendiri tau. Aduh pinggang gue, copot inih"
"Lagian lo pake acara mau siram segala sih, yajelas gue nggak terima lah." Ucap Sachi sebal.
"Dan menurut lo, gue juga mesti terima alesan pinggang gue sampe sakit banget. Mikir dong elah, kalau tulang gue ada yang geser lo mau tanggung jawab gitu?"
Sachi hanya mengedikkan bahunya, "Dih, baperan banget sih. Cocok sih kalau lo mau ikut syuting Dilon 2019." Tawanya pecah akan ucapannya sendiri.
Mila tidak membalas ia malah berjalan ke sudut ruangan dengan masih memegang pinggangnya. 'Tut' speaker dimatikan. Sachi masih memerhatikan hingga dilihatnya Mila mengambil sebuah benda kecil dengan kabel yang lumayan panjang dan memakainya di kedua telinganya. Sachi semakin mengernyit kala Mila dengan tenang duduk di sofa dan entah apa yang dilakukan gadis itu. Yang jelas Mila menyanyi dengan bahasa planet yang Sachi sama sekali tidak pahami. Mungkin nanti Sachi akan meminta maaf karena membuat Mila marah.
Dua buah headset menyumpal kedua telinga Mila. Mulutnya pun tak berhenti bersenandung. Sementara matanya yang terpejam seakan menikmati alunan lagu boy grup asal Korea itu.
"Mil, lo dengerin gue nggak sih ahelah?"
Karena Mila tidak bereaksi, Sachi berlari ke arah Mila dan langsung menarik headset Mila hingga terdengar pekikan dari gadis itu. Mila mengambilnya lagi setelah melempar bantal sofa ke wajah Sachi yang saat ini tengah merengut. Salah sendiri ganggu banget.
"Mending lo pulang deh Chi, gue mau marathon drakor soalnya. Lo ganggu banget disini,"
Sachi melotot tak terima, balik melempar guling yang ada dikamar Mila secara beruntun. Membuat Mila harus menjauh dari Sachi yang berubah jadi monster.
Setelah dirasa Sachi tenang, Mila mendekat dengan hati-hati. Duduk ditepian ranjang miliknya dengan pelan seakan takut Sachi mengggitnya.
Sachi menangis. Itu yang Mila lihat, punggung gadis itu bergetar menandakan ia tengah terisak sekarang.
Merasa tidak enak, ia menepuk lembut punggung Sachi. Mencoba menenangkan Sachi yang semakin terisak kencang. Ia bingung, masalahnya semenjak mengenal Sachi dua tahun lalu di Bogor ia tahu kebiasaan agar gadis itu berhenti menangis. Satu-satunya cara.
Mila mengotak-atik ponsel miliknya, setelah dirasa ketemu dengan apa yang ia cari. Ia segera menyodorkan layar ponsel yang menampilkan laman Instagram seseorang itu pada Sachi. Dan ajaibnya Sachi berhenti menangis kala itu juga. Bahkan ia sudah kembali tiduran dengan ponsel Mila yang harus dikorbankan untuk dimonopoli Sachi.
"Dasar bucin," ejek Mila.
Sachi mendesis sambil mengusap air matanya yang mulai kering. "Daripada lo, ngebucin sama cowok imajinasi. Mending gue lah, ada wujudnya."
"Gila ini mah, ganteng pake banget. Untung banget gue pernah jadi pacar nih orang," Mila hanya mendengus lalu merebahkan tubuhnya disamping Sachi. Ikut memerhatikan foto cowok yang merupakan mantan Sachi.
"Mantan aja bangga lo. Bisa nggak ajak balikan cowok ganteng itu lagi," ucapan Mila seperti sebuah tusukan tajam untuk Sachi.
Sachi diam, lalu menggulir layar sampai dimana ia menemukan foto Kavin mengenakan kaos baju warna hitam dengan kerah menutupi lehernya.

Sachi tentu ingat baju yang dipakai Kavin di foto itu. Itu pemberiannya tiga tahun yang lalu. Masih muat karena sejak dulu Kavin rajin berolahraga jadi tubuhnya tidak banyak berubah sekalipun umurnya bertambah. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Tak menyangka, Kavin menerima dan memakai hadiah darinya. Bahkan sampai sekarang.
Mila merasakan hawa di sekitar kamarnya menjadi berubah. Apalagi Sachi yang senyum sendiri, "Eh woy, lo jangan senyum gitu dong. Gue takut elah, nyeremin." Sachi hanya melengos. Kembali memfokuskan diri pada foto dihadapannya.
"Udah ah balikin handphone gue. Pakai sendiri noh hp lo, tuh kan baterai gue jadi tinggal separo. Elo sih, ah."
"Lebay lo, nih ambil nih. Udah gue hapusin semua foto bias lo, biar nggak makin halu."
"LO!!" Mila berteriak geram, bersiap mencekik leher Sachi.
"Apa? Niat gue baik loh. Ngejauhin lo dari dosa gara-gara kebanyakan ngebucin perut kotak bias lo." Sachi menjawab dengan tenang seakan itu hal biasa.
Mila melempar ponselnya kesal, mengacak rambutnya asal. Bukan hanya foto yang jumlahnya sudah ribuan itu yang Sachi hapus, lebih dari itu. MV idol grup yang baru ia download, aplikasi bahasa korea, lagu-lagu yang ia kumpulkan sejak masih di bangku menengah pertama. Dan yang terakhir, semua kontak teman-teman se-fandomnya pun ikut dihapus Sachi.
"Dosa gigi lo ompong. Gue nggak mau tau, pokoknya dalam seminggu ini lo harus balikin isi hp gue seperti semula. Atau gue nggak mau ngomong sama lo lagi," Mila berteriak frustrasi.
Semua waktu dan kuota yang ia korbankan tidak ada artinya di tangan Sachi. Padahal, ia baru saja ditawari oleh seorang admin grup Line di fandomnya untuk mendapatkan album comeback nya EXO juga bonus lightstick secara cuma-cuma. Dan hari ini karena tangan Sachi yang gatelnya minta ampun, ia gagal. Pokoknya Sachi harus tanggung jawab.
"Dih, padahal gue udah nyiapin dua tiket ke konser idola lo itu. Sayang banget lo malah ngediemin gue, yaudahlah ya gue jual lagi aja lumayan." Entah darimana asalnya, kini ditangan Sachi ada dua tiket konser yang selama ini di idam-idamkan Mila. Tentu saja Mila tidak akan berpikir ulang untuk segera mengambilnya.
Sachi mencibir, mengambil ponsel miliknya lalu menghidupkannya. Ia tertegun karena ada tiga panggilan masuk dari kontak bernama Kav. Seingatnya ia tak pernah memiliki kontak dengan nama ini. Oh, ia ingat. Kejadian di sekolah tadi.
Tiga tahun lalu."
Sachi mengernyit kemudian duduk di sebuah bangku yang kebetulan ada di tempat itu. Kavin mengikuti Sachi dan duduk tepat disebelahnya. Tak ada yang tahu, kalau kedekatan sederhana itu membuat salah satu pihak merasa bahagia.
"Ngomong apa sih Kak, tiga tahun lalu mah aku masih SMP. Yakali bisa kenal Kak Kavin. " Kavin mendongak tak percaya. Bagaimana bisa, apa benar Sachi kehilangan ingatannya?
"Lagian nih ya, mana mungkin seorang cowok kayak Kak Kavin yang famous bisa kenal sama aku yang kalau kata Mila sih nggak ada yang spesial dari aku," Sachi mendecak. "Nggak mungkin banget haha." Tambahnya lagi, kali ini ia tertawa.
Kavin masih diam ditempatnya. Bahkan suara tawa gadis disampingnya itu terasa membuatnya tak nyaman. Ia kemudian bangkit dan berjalan ke sisi pinggir bangunan. Menatap pemandangan di bawah.
Semilir angin sedikit membuatnya tenang meski tak sepenuhnya karena pikirannya tetap tertuju ke Sachi. Ia mengenal Sachi sudah cukup lama, bahkan sempat menjalin hubungan spesial sebelum dirinya bersikap bodoh. Dan disinilah ia sekarang, bersama Sachi yang melupakan kenangan bersamanya.
Matanya menatap sendu, gadis dibelakangnya yang kini beralih menghubungi sahabatnya itu. Dulu Sachi selalu mengomeli dirinya kala ia bertelepon sambil berteriak. Dan sekarang, gadis itu melakukannya.
"Iya Mil, sumpah suara lo nggak kedengeran disini. Gue nggak bisa jelasin sekarang, udah ntar aja..."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, ponsel Sachi sudah berada ditangan Kavin.
"Bilangin sama guru mapel, Sachi sakit."
Tut. Panggilan diputus sepihak. Dan malangnya, bukannya mengembalikan ponsel milik Sachi. Kavin malah mengantongi ponsel gadis itu. Dan Sachi makin dibuat bingung saat Kavin menjabat tangannya.
Kavin menaikkan salah satu alisnya kala melihat ekspresi kaget gadis itu. "Karna lo nggak kenal gue tiga tahun yang lalu, jadi gue juga punya hak buat nglupain semua tentang lo,"
Sachi semakin tidak paham. Tapi yang jelas, dari kalimat Kavin yang ia tangkap. Cowok itu tidak mau mengenalnya lagi. Dadanya berdesir, seakan ada dari sebagian tubuhnya yang tak terima dengan kalimat itu. Reflek ia ingin menarik tangannya, tapi malah digenggam erat oleh Kavin.
Sadar akan sorot kebingungan Sachi, Kavin tersenyum. Kali ini tulus. "Gue mau kita kenal lagi dari awal. Nama gue Kavin, so nama lo siapa."
Sachi masih bingung, apalagi sorot mata tajam itu sejak tadi menatapnya lembut. Sachi kan bawaannya jadi pengen nguyel-nguyel pipi Kavin. Eh
"Sachi, kelas 11 Mipa 1." Cicitnya pelan sambil menggigit kedua pipinya dalam.
"Lain kali kalau lagi telponan, jangan teriak kenceng. Kasihan orang yang lo telfon, bisa jebol kupingnya." Merasa dejavu, Sachi menatap Kavin yang kini balik menatapnya. Ia ingat, itu adalah kalimat yang sering ia ucapkan pada Kavin. Dan sekarang, cowok itu mengucapkan padanya. Tidak, ia tidak boleh mengingat apapun yang terjadi dulu. Kavin dan semua kenangan mereka, hanyalah kenangan pahit. Wajib dilupakan.
Kavin tahu kalau sedari tadi mata Sachi tak beralih dari kantong celananya dimana ia sembunyikan ponsel gadis itu. Kavin mengambilnya lalu mengulurkan ponsel itu pada Sachi yang melebarkan senyumnya.
"Gue udah save nomor gue di situ. Ntar malem gue hubungin. Jangan coba-coba buat nolak ataupun blok nomor gue"
"Eh, i-iya Kak."
Dalam hati Kavin terkekeh, bisa Kavin pastikan sekarang bahwa Sachi tengah menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Lihat saja, pipi Sachi sudah bersemu merah. "Lo nggak papa kan kalau gue tinggal sendirian disini. Atau lo mau ikut ke bawah?" Kavin mengalihkan pembicaraan.
Sachi berpikir sejenak. "Eh Kak Kavin duluan aja, aku masih mau disini." Tolaknya pelan.
Kavin mengangguk kemudian mengacak pelan puncak kepala Sachi, membuat desiran aneh pada gadis itu.
"Oh iya satu lagi, jangan panggil gue Kak. Cukup nama aja. Kayak dulu." Ada nada berbeda saat Kavin mengucapkan 'dulu', seperti penyesalan?
Sachi sempat menoleh kaget sebelum mengangguk patuh, "iya, Kavin" jawabnya pelan nyaris tak terdengar tanpa menatap lawan bicaranya.
Dan siapa sangka, sebelum melangkah keluar cowok itu menyunggingkan senyumnya. Cukup, itu saja sudah cukup untuk Kavin.
Setelah kepergian Kavin, Sachi baru sadar akan tingkah aneh cowok yang pernah menjadi bagian masa lalunya itu. Meskipun pura-pura, tapi Sachi selalu merasa nyaman didekat Kavin. Entahlah, Kavin yang sekarang sangat berbeda dengan Kavinnya dulu.
Ia masih ingat, ketika Kavin dengan teganya memutuskan hubungan mereka disaat dirinya tengah menyiapkan kejutan sebagai perayaan atas dua tahun kebersamaan mereka. Namun nyatanya, dua tahun yang mereka lalui sama sekali tidak ada artinya bagi cowok itu. Kavin menjadikannya taruhan hanya demi sebuah motor tua yang Sachi ingat adalah milik mantan Kavin sebelum dirinya, tepatnya cinta pertama Kavin.
Sejak itu, Sachi memilih pindah ke rumah neneknya di Bogor dan baru dua tahun lalu ia kembali lagi ke rumah orang tuanya. Ia tak menyangka, akan dipertemukan lagi dengan Kavin setelah kejadian itu. Satu tahun dilaluinya dengan mudah karena ia tak pernah menunjukkan dirinya didepan publik. Dan karena misi sialan yang mau tak mau harus ia selesaikan, kini ia kembali berurusan dengan Kavin yang dengan seenaknya memaksa untuk dirinya mengingat masa masa kelam itu. Mimpi saja. Mantan ya tetep mantan. No, balikan!!!
********
Sampai dirumah Sachi langsung menuju dapur tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dulu. Ia benar-benar butuh air. Sepeninggal Kavin, ia menerima pesan dari Mila bahwasannya guru pikey sedang berpratoli untuk menangkap siswa siswi yang membolos. Tentu saja hal itu membuat Sachi kelabakan. Mau turun kebawah, itu sama saja bunuh diri karena ia tahu guru piket pasti sedang berjaga disana. Dan pilihan terakhir yang dipilihnya adalah, menuruni tangga darurat yang akan membawanya ke halaman belakang sekolah.
Ia cukup lega karena kondisi sepi, jadi ia berniat meloncati pagar. Namun lagi-lagi sial, satpam sekolah melihat dirinya dan mengejar Sachi. Dan jadilan adegan kejar-kejaran antara Sachi dengan Satpam . Untungnya ia berhasil kabur setelah menyegat taksi yang kebetulan kala itu lewat.
"Bagus ya, pulang sekolah bukannya mandi dulu malah langsung ke dapur. Dan lagi, rok kenapa bisa sobek gitu. Kamu nggak manjat pagar sekolah lagi kan Sachi?"
Sachi hanya menyengir saat dilihatnya sang Bunda sudah berkacak pinggang menatapnya tajam. Ia mendekat dan memeluk bundanya seraya mengucapkan kata maaf. Bundanya hanya geleng-geleng melepaskan pelukan Sachi lalu mencubit gemas pipi Sachi yang semakin memerah.
"Tadi Sachi jatuh Bun, dan soal kenapa Sachi ke dapur ya karena perut anak Bunda ini laper. Tapi nggak ada makanan," ucap Sachi, bibirnya mengerucut karena perutnya sudah berbunyi minta dikasih makan.
"Alasan aja kamu ini, udah sana ke kamar. Mandi dulu!" Usir Bundanya, membuat Sachi merengut.
"Nggak usah ke dapur lagi," padahal Sachi baru ingin punya niatan untuk membantu sang Bunda menyiapkan masakan. "Terakhir kali kamu bantuin Bunda masak, gula kamu kira garam. Dan gara-gara itu, Papa kamu nggak mau makan masakan Bunda lagi." Ucap Bunda sadis.
Senyum lebar ditunjukkan Sachi, membalas tatapan malas dan kesal sang Bunda. Ia memilih mengambil es krim juga beberapa cemilan untuk dibawanya ke kamar.
Dan membersihkan diri sekaligus mengisi perutnya yang keroncongan dengan masakan Bunda yang lezat menggoda. Ia meminta izin untuk menginap di rumah Mila.
*******
Tring
From: Kav
Kenapa nggak dijawab?
Sachi memekik kaget, jadi yang nelpon berkali-kali itu Kavin ya?
To be continued
Biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa
Yang tepat
Di waktu yang salah
Fiersa Besari ~ Waktu Yang Salah
Bagian 3~ dia kenapa?
Bukan tentang rasa yang tepat di waktu yang salah. Ini tentang rasa yang dipaksa bertahan meski tahu takkan terbalaskan...
Dariku, untukmu yang merasa๐
-----------------------------------------------------------------
Suasana kamar Mila terbilang cukup ramai oleh suara musik yang gadis itu putar dari speaker miliknya. Tania, tetangga sebelah rumahnya pun sudah pulang setelah meminjam buku resep masakan milik sang Mama. Sedangkan sekarang, ia duduk ditepi ranjang karena sisi tengah sudah di tempati Sachi yang asik tiduran disana.
"Bangun dong Chi, katanya tadi mau curhat. Gue udah siap lo nya malah tiduran. Sebenarnya yang butuh gue atau lo sih. Eh woy kebo, bangun. Gue ambilin air beneran nih ya!"
Sachi menggeliat, menarik tangan Mila yang hendak beranjak sehingga Mila terhuyung jatuh menimpa tubuh Sachi.
"Aduuuhh, lo makan apaan sih Mil. Badan gue sakit banget gilakkk!! Bangun nggak lo!"
"Auuh, lo sih narik gue segala. Salah lo sendiri tau. Aduh pinggang gue, copot inih"
"Lagian lo pake acara mau siram segala sih, yajelas gue nggak terima lah." Ucap Sachi sebal.
"Dan menurut lo, gue juga mesti terima alesan pinggang gue sampe sakit banget. Mikir dong elah, kalau tulang gue ada yang geser lo mau tanggung jawab gitu?"
Sachi hanya mengedikkan bahunya, "Dih, baperan banget sih. Cocok sih kalau lo mau ikut syuting Dilon 2019." Tawanya pecah akan ucapannya sendiri.
Mila tidak membalas ia malah berjalan ke sudut ruangan dengan masih memegang pinggangnya. 'Tut' speaker dimatikan. Sachi masih memerhatikan hingga dilihatnya Mila mengambil sebuah benda kecil dengan kabel yang lumayan panjang dan memakainya di kedua telinganya. Sachi semakin mengernyit kala Mila dengan tenang duduk di sofa dan entah apa yang dilakukan gadis itu. Yang jelas Mila menyanyi dengan bahasa planet yang Sachi sama sekali tidak pahami. Mungkin nanti Sachi akan meminta maaf karena membuat Mila marah.
Dua buah headset menyumpal kedua telinga Mila. Mulutnya pun tak berhenti bersenandung. Sementara matanya yang terpejam seakan menikmati alunan lagu boy grup asal Korea itu.
"Mil, lo dengerin gue nggak sih ahelah?"
Karena Mila tidak bereaksi, Sachi berlari ke arah Mila dan langsung menarik headset Mila hingga terdengar pekikan dari gadis itu. Mila mengambilnya lagi setelah melempar bantal sofa ke wajah Sachi yang saat ini tengah merengut. Salah sendiri ganggu banget.
"Mending lo pulang deh Chi, gue mau marathon drakor soalnya. Lo ganggu banget disini,"
Sachi melotot tak terima, balik melempar guling yang ada dikamar Mila secara beruntun. Membuat Mila harus menjauh dari Sachi yang berubah jadi monster.
Setelah dirasa Sachi tenang, Mila mendekat dengan hati-hati. Duduk ditepian ranjang miliknya dengan pelan seakan takut Sachi mengggitnya.
Sachi menangis. Itu yang Mila lihat, punggung gadis itu bergetar menandakan ia tengah terisak sekarang.
Merasa tidak enak, ia menepuk lembut punggung Sachi. Mencoba menenangkan Sachi yang semakin terisak kencang. Ia bingung, masalahnya semenjak mengenal Sachi dua tahun lalu di Bogor ia tahu kebiasaan agar gadis itu berhenti menangis. Satu-satunya cara.
Mila mengotak-atik ponsel miliknya, setelah dirasa ketemu dengan apa yang ia cari. Ia segera menyodorkan layar ponsel yang menampilkan laman Instagram seseorang itu pada Sachi. Dan ajaibnya Sachi berhenti menangis kala itu juga. Bahkan ia sudah kembali tiduran dengan ponsel Mila yang harus dikorbankan untuk dimonopoli Sachi.
"Dasar bucin," ejek Mila.
Sachi mendesis sambil mengusap air matanya yang mulai kering. "Daripada lo, ngebucin sama cowok imajinasi. Mending gue lah, ada wujudnya."
"Gila ini mah, ganteng pake banget. Untung banget gue pernah jadi pacar nih orang," Mila hanya mendengus lalu merebahkan tubuhnya disamping Sachi. Ikut memerhatikan foto cowok yang merupakan mantan Sachi.
"Mantan aja bangga lo. Bisa nggak ajak balikan cowok ganteng itu lagi," ucapan Mila seperti sebuah tusukan tajam untuk Sachi.
Sachi diam, lalu menggulir layar sampai dimana ia menemukan foto Kavin mengenakan kaos baju warna hitam dengan kerah menutupi lehernya.

Sachi tentu ingat baju yang dipakai Kavin di foto itu. Itu pemberiannya tiga tahun yang lalu. Masih muat karena sejak dulu Kavin rajin berolahraga jadi tubuhnya tidak banyak berubah sekalipun umurnya bertambah. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Tak menyangka, Kavin menerima dan memakai hadiah darinya. Bahkan sampai sekarang.
Mila merasakan hawa di sekitar kamarnya menjadi berubah. Apalagi Sachi yang senyum sendiri, "Eh woy, lo jangan senyum gitu dong. Gue takut elah, nyeremin." Sachi hanya melengos. Kembali memfokuskan diri pada foto dihadapannya.
"Udah ah balikin handphone gue. Pakai sendiri noh hp lo, tuh kan baterai gue jadi tinggal separo. Elo sih, ah."
"Lebay lo, nih ambil nih. Udah gue hapusin semua foto bias lo, biar nggak makin halu."
"LO!!" Mila berteriak geram, bersiap mencekik leher Sachi.
"Apa? Niat gue baik loh. Ngejauhin lo dari dosa gara-gara kebanyakan ngebucin perut kotak bias lo." Sachi menjawab dengan tenang seakan itu hal biasa.
Mila melempar ponselnya kesal, mengacak rambutnya asal. Bukan hanya foto yang jumlahnya sudah ribuan itu yang Sachi hapus, lebih dari itu. MV idol grup yang baru ia download, aplikasi bahasa korea, lagu-lagu yang ia kumpulkan sejak masih di bangku menengah pertama. Dan yang terakhir, semua kontak teman-teman se-fandomnya pun ikut dihapus Sachi.
"Dosa gigi lo ompong. Gue nggak mau tau, pokoknya dalam seminggu ini lo harus balikin isi hp gue seperti semula. Atau gue nggak mau ngomong sama lo lagi," Mila berteriak frustrasi.
Semua waktu dan kuota yang ia korbankan tidak ada artinya di tangan Sachi. Padahal, ia baru saja ditawari oleh seorang admin grup Line di fandomnya untuk mendapatkan album comeback nya EXO juga bonus lightstick secara cuma-cuma. Dan hari ini karena tangan Sachi yang gatelnya minta ampun, ia gagal. Pokoknya Sachi harus tanggung jawab.
"Dih, padahal gue udah nyiapin dua tiket ke konser idola lo itu. Sayang banget lo malah ngediemin gue, yaudahlah ya gue jual lagi aja lumayan." Entah darimana asalnya, kini ditangan Sachi ada dua tiket konser yang selama ini di idam-idamkan Mila. Tentu saja Mila tidak akan berpikir ulang untuk segera mengambilnya.
Sachi mencibir, mengambil ponsel miliknya lalu menghidupkannya. Ia tertegun karena ada tiga panggilan masuk dari kontak bernama Kav. Seingatnya ia tak pernah memiliki kontak dengan nama ini. Oh, ia ingat. Kejadian di sekolah tadi.
Tiga tahun lalu."
Sachi mengernyit kemudian duduk di sebuah bangku yang kebetulan ada di tempat itu. Kavin mengikuti Sachi dan duduk tepat disebelahnya. Tak ada yang tahu, kalau kedekatan sederhana itu membuat salah satu pihak merasa bahagia.
"Ngomong apa sih Kak, tiga tahun lalu mah aku masih SMP. Yakali bisa kenal Kak Kavin. " Kavin mendongak tak percaya. Bagaimana bisa, apa benar Sachi kehilangan ingatannya?
"Lagian nih ya, mana mungkin seorang cowok kayak Kak Kavin yang famous bisa kenal sama aku yang kalau kata Mila sih nggak ada yang spesial dari aku," Sachi mendecak. "Nggak mungkin banget haha." Tambahnya lagi, kali ini ia tertawa.
Kavin masih diam ditempatnya. Bahkan suara tawa gadis disampingnya itu terasa membuatnya tak nyaman. Ia kemudian bangkit dan berjalan ke sisi pinggir bangunan. Menatap pemandangan di bawah.
Semilir angin sedikit membuatnya tenang meski tak sepenuhnya karena pikirannya tetap tertuju ke Sachi. Ia mengenal Sachi sudah cukup lama, bahkan sempat menjalin hubungan spesial sebelum dirinya bersikap bodoh. Dan disinilah ia sekarang, bersama Sachi yang melupakan kenangan bersamanya.
Matanya menatap sendu, gadis dibelakangnya yang kini beralih menghubungi sahabatnya itu. Dulu Sachi selalu mengomeli dirinya kala ia bertelepon sambil berteriak. Dan sekarang, gadis itu melakukannya.
"Iya Mil, sumpah suara lo nggak kedengeran disini. Gue nggak bisa jelasin sekarang, udah ntar aja..."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, ponsel Sachi sudah berada ditangan Kavin.
"Bilangin sama guru mapel, Sachi sakit."
Tut. Panggilan diputus sepihak. Dan malangnya, bukannya mengembalikan ponsel milik Sachi. Kavin malah mengantongi ponsel gadis itu. Dan Sachi makin dibuat bingung saat Kavin menjabat tangannya.
Kavin menaikkan salah satu alisnya kala melihat ekspresi kaget gadis itu. "Karna lo nggak kenal gue tiga tahun yang lalu, jadi gue juga punya hak buat nglupain semua tentang lo,"
Sachi semakin tidak paham. Tapi yang jelas, dari kalimat Kavin yang ia tangkap. Cowok itu tidak mau mengenalnya lagi. Dadanya berdesir, seakan ada dari sebagian tubuhnya yang tak terima dengan kalimat itu. Reflek ia ingin menarik tangannya, tapi malah digenggam erat oleh Kavin.
Sadar akan sorot kebingungan Sachi, Kavin tersenyum. Kali ini tulus. "Gue mau kita kenal lagi dari awal. Nama gue Kavin, so nama lo siapa."
Sachi masih bingung, apalagi sorot mata tajam itu sejak tadi menatapnya lembut. Sachi kan bawaannya jadi pengen nguyel-nguyel pipi Kavin. Eh
"Sachi, kelas 11 Mipa 1." Cicitnya pelan sambil menggigit kedua pipinya dalam.
"Lain kali kalau lagi telponan, jangan teriak kenceng. Kasihan orang yang lo telfon, bisa jebol kupingnya." Merasa dejavu, Sachi menatap Kavin yang kini balik menatapnya. Ia ingat, itu adalah kalimat yang sering ia ucapkan pada Kavin. Dan sekarang, cowok itu mengucapkan padanya. Tidak, ia tidak boleh mengingat apapun yang terjadi dulu. Kavin dan semua kenangan mereka, hanyalah kenangan pahit. Wajib dilupakan.
Kavin tahu kalau sedari tadi mata Sachi tak beralih dari kantong celananya dimana ia sembunyikan ponsel gadis itu. Kavin mengambilnya lalu mengulurkan ponsel itu pada Sachi yang melebarkan senyumnya.
"Gue udah save nomor gue di situ. Ntar malem gue hubungin. Jangan coba-coba buat nolak ataupun blok nomor gue"
"Eh, i-iya Kak."
Dalam hati Kavin terkekeh, bisa Kavin pastikan sekarang bahwa Sachi tengah menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Lihat saja, pipi Sachi sudah bersemu merah. "Lo nggak papa kan kalau gue tinggal sendirian disini. Atau lo mau ikut ke bawah?" Kavin mengalihkan pembicaraan.
Sachi berpikir sejenak. "Eh Kak Kavin duluan aja, aku masih mau disini." Tolaknya pelan.
Kavin mengangguk kemudian mengacak pelan puncak kepala Sachi, membuat desiran aneh pada gadis itu.
"Oh iya satu lagi, jangan panggil gue Kak. Cukup nama aja. Kayak dulu." Ada nada berbeda saat Kavin mengucapkan 'dulu', seperti penyesalan?
Sachi sempat menoleh kaget sebelum mengangguk patuh, "iya, Kavin" jawabnya pelan nyaris tak terdengar tanpa menatap lawan bicaranya.
Dan siapa sangka, sebelum melangkah keluar cowok itu menyunggingkan senyumnya. Cukup, itu saja sudah cukup untuk Kavin.
Setelah kepergian Kavin, Sachi baru sadar akan tingkah aneh cowok yang pernah menjadi bagian masa lalunya itu. Meskipun pura-pura, tapi Sachi selalu merasa nyaman didekat Kavin. Entahlah, Kavin yang sekarang sangat berbeda dengan Kavinnya dulu.
Ia masih ingat, ketika Kavin dengan teganya memutuskan hubungan mereka disaat dirinya tengah menyiapkan kejutan sebagai perayaan atas dua tahun kebersamaan mereka. Namun nyatanya, dua tahun yang mereka lalui sama sekali tidak ada artinya bagi cowok itu. Kavin menjadikannya taruhan hanya demi sebuah motor tua yang Sachi ingat adalah milik mantan Kavin sebelum dirinya, tepatnya cinta pertama Kavin.
Sejak itu, Sachi memilih pindah ke rumah neneknya di Bogor dan baru dua tahun lalu ia kembali lagi ke rumah orang tuanya. Ia tak menyangka, akan dipertemukan lagi dengan Kavin setelah kejadian itu. Satu tahun dilaluinya dengan mudah karena ia tak pernah menunjukkan dirinya didepan publik. Dan karena misi sialan yang mau tak mau harus ia selesaikan, kini ia kembali berurusan dengan Kavin yang dengan seenaknya memaksa untuk dirinya mengingat masa masa kelam itu. Mimpi saja. Mantan ya tetep mantan. No, balikan!!!
********
Sampai dirumah Sachi langsung menuju dapur tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dulu. Ia benar-benar butuh air. Sepeninggal Kavin, ia menerima pesan dari Mila bahwasannya guru pikey sedang berpratoli untuk menangkap siswa siswi yang membolos. Tentu saja hal itu membuat Sachi kelabakan. Mau turun kebawah, itu sama saja bunuh diri karena ia tahu guru piket pasti sedang berjaga disana. Dan pilihan terakhir yang dipilihnya adalah, menuruni tangga darurat yang akan membawanya ke halaman belakang sekolah.
Ia cukup lega karena kondisi sepi, jadi ia berniat meloncati pagar. Namun lagi-lagi sial, satpam sekolah melihat dirinya dan mengejar Sachi. Dan jadilan adegan kejar-kejaran antara Sachi dengan Satpam . Untungnya ia berhasil kabur setelah menyegat taksi yang kebetulan kala itu lewat.
"Bagus ya, pulang sekolah bukannya mandi dulu malah langsung ke dapur. Dan lagi, rok kenapa bisa sobek gitu. Kamu nggak manjat pagar sekolah lagi kan Sachi?"
Sachi hanya menyengir saat dilihatnya sang Bunda sudah berkacak pinggang menatapnya tajam. Ia mendekat dan memeluk bundanya seraya mengucapkan kata maaf. Bundanya hanya geleng-geleng melepaskan pelukan Sachi lalu mencubit gemas pipi Sachi yang semakin memerah.
"Tadi Sachi jatuh Bun, dan soal kenapa Sachi ke dapur ya karena perut anak Bunda ini laper. Tapi nggak ada makanan," ucap Sachi, bibirnya mengerucut karena perutnya sudah berbunyi minta dikasih makan.
"Alasan aja kamu ini, udah sana ke kamar. Mandi dulu!" Usir Bundanya, membuat Sachi merengut.
"Nggak usah ke dapur lagi," padahal Sachi baru ingin punya niatan untuk membantu sang Bunda menyiapkan masakan. "Terakhir kali kamu bantuin Bunda masak, gula kamu kira garam. Dan gara-gara itu, Papa kamu nggak mau makan masakan Bunda lagi." Ucap Bunda sadis.
Senyum lebar ditunjukkan Sachi, membalas tatapan malas dan kesal sang Bunda. Ia memilih mengambil es krim juga beberapa cemilan untuk dibawanya ke kamar.
Dan membersihkan diri sekaligus mengisi perutnya yang keroncongan dengan masakan Bunda yang lezat menggoda. Ia meminta izin untuk menginap di rumah Mila.
*******
Tring
From: Kav
Kenapa nggak dijawab?
Sachi memekik kaget, jadi yang nelpon berkali-kali itu Kavin ya?
To be continued
Komentar
Posting Komentar