Langsung ke konten utama

Cerpen Sachi's 30 Days! (MatiMuda) Bag 1

To : Salyan Nacita Wirya

'Kamu nggak bakal tahu, kalau kamu nggak mencobanya sendiri. Mendekat mungkin keputusan yang tepat'

"Nyoba apa sih, coklat?, ayam geprek?, apa jeruk nipis?" Kening Mila berkerut setelah membaca sebuah pesan Line dari ponsel Sachi.

Sachi merebut ponsel miliknya dengan kesal. "Gue nyuruh lo kesini buat bantuin, bukan malah ngedikte daftar makanan di perut lo!" sungutnya.

Mila mencebik, memerhatikan Sachi yang membaca pesan itu berulang-ulang berusaha menemukan maksud dari pesan misterius yang selalu memberinya misi itu.

Semua bermula ketika Sachi yang tak sengaja menemukan bingkisan plastik aneh yang entah bagaimana caranya bisa berada di lantai kamarnya. Plastik itu berisi kertas warna warni beserta krayon dan juga dua buah pensil. Awalnya ia mengira, jika itu keisengan sepupunya yang kebetulan menginap kala itu. Ternyata bukan, setelah ia menemukan satu kertas yang ternyata bertuliskan sebuah kalimat yang berisikan sebuah misi. Setelah itu misi lain selalu muncul dalam bentuk yang berbeda. Akhir-akhir ini, misi itu datang lewat pesan Line.

"Lagian dari sekian misi yang lo dapet, baru kali ini tuh orang ngasih misi kayak pujangga alay tau nggak. Biasanya juga to the point!" Tandas Mila kesal.

"Iya sih. Tapi gue harus nyelesain misi ini, gimana dong?" Sachi memejamkan matanya, berharap ada secercah ide yang masuk ke otaknya."Buntu Mil, otak gue buntu argghhh!!" Jeritnya kemudian.

"Susah juga ini Chi, apaan banget deh. Mending juga nyelesain TTS daripada misi ini. Baru mulai udah bikin pusing aja," mereka berdua merasa frustrasi akan misi yang Sachi dapatkan. Tapi Sachi harus menyelesaikannya dalam satu bulan.

"Eh tapi ada yang beda loh dari pesan si Sunnie ini. Nih liat," ia menunjuk pesan di ponselnya pada Mila. "Dia tahu nama lengkap gue loh. Biasanya dia cuma nyantumin nama panggilan gue doang. Lagian ya, nggak banyak orang tahu nama lengkap gue Mil. Gue jadi penasaran, siapa orang dibalik Sunnie ini."

Mila mengangguk-angguk mencoba mencerna ucapan Sachi yang menurutnya cukup masuk akal. "Iya juga sih. Tapi biarin dulu lah, fokus utama kita," Mila mendengus  saat Sachi mendumel karena ucapannya. "Maksudnya, fokus utama LO saat ini ya ke misi ini aja dulu. Masalah siapa orang dibalik misi lo selama ini bisa dipikir belakangan. Bisa aja kan, hadiah kali ini lo bisa ketemu langsung sama Sunnie. Who knows?"

"Terus kalau lo berhasil, lo dapet imbalan apa?" Tanya Mila super kepo mengalihkan topik sebelumnya.

Pasalnya imbalan dari orang yang Sachi juluki 'Sunnie' ini terkesan sangat 'wah'. Contohnya saja, setelah ia menyelesaikan misi yang terkesan remeh yaitu menyelamatkan kucing di selokan sekolahnya. Keesokan harinya, tiket gratis ke Korea menyambangi kamar miliknya. Sayangnya, ia batal pergi karena pilek yang menderanya. Sampai sekarang, ia masih dongkol jika terpaksa mengingat itu. Demi apapun ia mengutuk pilek yang datang tanpa permisi lalu pergi setelah tiket ke Korea hangus.

"Yang jelas, ini bakalan lebih dari yang sebelum-sebelumnya."

"Gue bantu. Hadiahnya bagi separo. Kita harus cepet cari tau apa maksud dari misi ini. Ayo cepetan!"

Sachi kadang merasa heran dengan sifat Mila. Pasalnya, selama dua tahun mereka bersahabat sudah beberapa kali Mila membantunya dalam hal apapun. Dan gilanya, saat Sachi senang ataupun sedih pasti yang bisa ngerasain itu malah Mila. Sachi kepleset, Mila yang kesakitan. Sachi kehujanan, besoknya Mila yang pilek. Sachi ditembak cowok, Mila jingkrak-jingkrak (padahal dia jomblo). Sachi kecelakaan, Mila yang mati. Eh  Astagfirullahalazim.

Intinya mereka sehati.

"Coba gue liat lagi," Mila kembali merebut ponsel Sachi, membacanya pelan-pelan mengulangi setiap kata yang mungkin adalah sebuah kode tersembunyi.

"Gue tau Chi, gue tau apa misi lo selanjutnya." Pekiknya girang sambil menggoncang keras bahu Sachi hingga sahabatnya itu meringis memelototinya.

"Apaan, gue nggak mau denger spekulasi yang nggak masuk akal lagi keluar dari mulut lo!" Ancam Sachi sambil menepis tangan Mila yang masih nangkring di bahunya.

Kali ini Mila berdiri mengambil nafas sejenak. "Ini menyangkut cowok yang lo taksir," beonya tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Sachi yang sempat melotot kaget. "Gue serius, aww nggak usah jitak kepala juga woy. Ini tuh aset yang perlu dijaga!"

"Gue juga nggak niat buat becanda dodol. Lagian lo kalau ngomong suka asal jeplak sih, hubungannya misi sama cowok yang gue taksir apa sih kanjeng nyonya ayu Kamila Aningtyas tersayang?" Ucap Sachi tak kalah mendramatisir suasana.

Mila mendecak sebal. Sachi kira siapa selama ini orang yang membantunya memecahkan misi gadis itu? Setan yang lagi khilaf? Jelas, otak pintar Mila yang selama ini bekerja dibalik layar. Sachi mah apa, modal tampang doang. Otaknya, yagitu.

"Eit ngawur aja, gue nggak asal jeplak ya. Yang dimaksud 'mencoba' itu ya pasti nyoba deket sama tuh cowok" Mila masih ngotot mempertahankan spekulasinya itu.

"Maksud gue tuh gini loh. Tujuan si 'Sunnie' nyuruh gue deketin tuh cowok tuh apa? Nggak mungkin kan ada asap kalau nggak ada api?" Sahut Sachi dengan nada malas yang kentara.

"Mungkin aja kan, dia semacam mak comblang, atau cupid yang diturunkan Allah buat bantu lo. Jadi lo nggak boleh anggap remeh misi kali ini!" Sungutnya sambil memasukkan keripik kentang ke mulutnya yang pegel ngoceh. "Lagian ya, kalaupun ini bukan misi lo yang sebenarnya. Kan lumayan lo bisa pacaran sama Prince-nya lo itu, lalu hidup bahagia selamanya"

"Lo pikir ini sinetron!!" Sahutnya kesal, menimpuk kepala Mila dengan keripik kentang.

Mila mengaduh sebentar. Terkekeh lalu mendekat dan membisikkan kalimat yang sukses membuat Jessi meremang.

"Gue nggak mau bertele-tele Sisi. Misi lo kali ini adalah, deketin dan taklukin Prince Hot-nya Nusantara sekaligus cowok yang lo taksir." Tekannya mantap tanpa ada keraguan sama sekali.

Tapi yang jadi masalahnya sekarang adalah...

"Kalau bener itu misinya. Gue bakal mati muda!!!"

°°°°°°°°°°°°°

Arkavin Radian Putra. Julukan Prince Hot langsung tersemat sejak ia membela salah satu cewek cupu saat ia masih di tahun pertamanya di Nusantara. Tampangnya yang cool, juga wibawanya kalau pidato bikin cewek cewek klepek klepek. Ia juga terkenal pintar, dan sering menjuarai beberapa Olimpiade sehingga namanya melambung pesat, dan dikenal seantero sekolah.

"Oke, itu informasi yang umum banget Mil. Nggak ada yang lebih spesifik lagi apa?" Keluhnya saat membaca deretan info yang didapat Mila dari salah satu fans fanatik Kavin.

"Lo tau kan kalau Kavin itu dingin plus misterius gitu orangnya. Ya jadi nggak ada info selain itu yang bisa gue dapet," ucapnya sembari membolak balik lembaran catatan geografi miliknya.

Sachi terduduk lemas. Dari awal ia sudah yakin jika ini akan menjadi misi tersulitnya. Pasalnya, Kavin itu bukan orang sembarangan. Selain dari segi fisik yang membuat banyak cewek rela mengantre, ia juga orang yang terkesan penutup. Tidak ada satupun orang yang tau dimana tempat tinggalnya dan bagaimana keluarganya. Tapi dari gosip yang beredar, Kavin berasal dari keluarga yang tajir dan merupakan donatur terbesar di sekolah ini.

"Nah nah, tuh orangnya lewat. Buruan samperin! Ajak kenalan!" Mila menunjuk seorang cowok yang berdiri tak jauh dari kelasnya ini.

"Apaan sih nggak ah, lo mau sahabat tercinta lo ini mati muda?" Tolaknya kesal.

Kini posisi mereka sudah berada di luar kelas hingga posisi Kavin sangat teramati dengan jelas. Dan tentu saja, ini kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

"Daripada jomblo sampe tua, mending lo mati muda aja," Sachi melotot siap menyumpah serapahi Mila jika saja kakinya tidak mendadak bergetar seperti ini. Kakinya tremor.

Kavin berjalan ke arahnya atau tepatnya satu satunya jalan yang bisa dilewati untuk sampai ke kelasnya. Sachi keburu geer. Ia merapikan rambutnya yang lepek. Membenarkan kerah bajunya yang sedikit melenceng ke samping. Oke sampai disini penampilannya masih oke. Sachi memasang senyum terbaiknya berharap akan disapa oleh Kavin.

Kavin hanya melewatinya.

Sachi tertegun setelah beberapa detik cowok itu berlalu dan sekarang berdiri di depan mading. Menepuk kepalanya sendiri karena sempat berpikir bodoh, berharap Kavin akan menyapanya.

"Kavin kampret," umpatnya tak bisa menampik rasa kesalnya.

Mila tertawa. "Lagian siapa tadi yang bilang nggak mau mati muda? Ini kok ngarep banget disapa Prince-nya sih?"

Bibir Sachi memberengut kesal. Sedetik kemudian, ia merogoh kantong sakunya untuk mengambil ponselnya yang bergetar.

Sunnie
'Mendekat atau tidak sama sekali.'

Ia meremas pelan ujung seragamnya, menatap Mila seolah meminta bantuan.

"Gue harus ngapain nih, Mil?"

Diambilnya ponsel Sachi, meneliti sebaris kalimat yang membuat keningnya berkerut. Benar. Misi Sachi kali ini sangat berbeda.

"Lo ikutin saran gue deh. Deketin Kak Kavin. Ajak kenalan. Syukur lo bisa ngegaet hatinya yang kayak es itu." Mila mendorong pelan bahu Sachi. Namun, Sachi masih menahan kakinya untuk melangkah barang sejengkalpun.

"Gue takut ganggu Mil, tuh liat orangnya lagi serius gitu bacanya." Tunjuknya ke arah Kavin yang berdiri dihadapan mading.

Mila yang sudah tak sabar, mendorong lagi bahu Sachi. Kali ini lebih keras dan terbukti dengan Sachi yang mengaduh kesakitan disana. Entah jurus apa yang dipraktekkan Mila hingga Sachi berakhir terjungkal dua meter lebih dari tempatnya semula. Dan Sachi benar-benar mengutuk Mila akan posisinya sekarang.

"Sampai kapan lo lesehan kayak gitu. Percuma, gue nggak bakal bantuin dari drama lo bareng temen lo itu." Ucap suara berat yang Sachi yakini bukan makhluk biasa.

Ia mendongak dan jantungnya serasa copot. Mila harus bertanggung jawab kali ini. Dengan pelan, ia bangun, merapikan beberapa bagian seragamnya yang sedikit kotor dan lecek.

Sachi masih bungkam, tidak berani menatap sorot tajam di depannya yang sejak tadi menyorotnya. Bibirnya bergetar, ia memegang erat ujung seragamnya. Tapi, ia tak punya pilihan lain. Dengan pelan ia mendongak demi mendapati tatapan tajam yang sumpah membuat tubuhnya lemas. Ia terkesiap, begitu matanya bertemu sorot mata tegas dan tajam itu. Sorot matanya gelap, tajam sekaligus hangat secara bersamaan.

"Ada penjelasan?" Tanya Kavin yang lagi-lagi terdengar horor di telinga Sachi. Demi apapun, suara serak nan seksi itu saat ini begitu menyeramkan baginya. Ia berharap  tubuhnya melebur, tertiup angin, kasat mata, lalu hilang. Menuju ke surga bersama para malaikat tampan. Tapi tidak, ia belum siap mati sekarang. Masalahnya, Sachi belum nikah.

Suasana koridor mendadak senyap, padahal ratusan siswa sudah memenuhi setiap sudut koridor. Demi melihat drama yang diciptakan Prince Hot mereka.

"Enggak ada." Singkat dan jelas hingga membuat Kavin mengerutkan kening.

"Gu-gue nggak bohong. Gue didorong sama temen gue, dan itu nggak sengaja." Cicitnya pelan. Melirik Mila yang sudah hilang dari posisinya tadi. Setelah ini, jangan harap ia melepaskan Mila. Ingat saja.

Kavin menaikkan sebelah alisnya. Memandang gadis di depannya ini dengan tatapan menilai. Tersenyum kecil, kala dilihatnya gelang biru yang melingkar ditangan mungil gadis itu.

Sadar diperhatikan, Sachi menyembunyikan tangannya ke belakang yang jelas saja sudah terlambat. Setidaknya, sekarang Kavin tidak menatapnya lagi.

"Lo tentu tau hukuman apa yang pantes buat orang yang udah ganggu kenyamanan gue," ucap Kavin datar.

Gadis itu menahan nafasnya. Menghembuskannya kala seorang siswa yang tak sengaja lewat menepuk bahunya pelan.

"Hukuman? Gue kan nggak salah, gue udah bilang kalau gue nggak sengaja. Lo nggak budeg kan?" Antara sadar atau tidak Jessi mengucapkan itu dengan suara meninggi. Bahkan ia tak sadar, akibat suaranya tadi kini beberapa pasang mata meliriknya sinis. Kalaupun Sachi sadar, paling ia akan memasang muka tembok. Bodo amatlah.

"Woy Sachi, yang sopan dong sama senior. Pernah diajarin sopan santun nggak sih, heran gue." Teriak seorang siswi, yang Sachi rasa adalah salah satu fans cowok didepannya ini.

Sachi hanya meliriknya sekilas. Merasa tidak perlu meladeni orang seperti itu.

Merasa tak direspon, siswi tadi berniat menghampiri Jessi kalau saja Kavin tak menghentikannya. Gantian Kavin yang maju selangkah mendekati Sachi.

"Jadi lo mulai berani sama gue?" Tantang Kavin datar, tak sesuai dengan apa yang diucapkannya. Suaranya yang datar, malah semakin menambah aura horor dimata Sachi. Ingat, hanya Sachi.

Sachi bingung mau merespon apa karena posisi Kavin yang sangat dekat dengan dirinya membuat segalanya jadi sulit. Jangankan bicara, bernafas saja rasanya sulit. Ia tersadar akan kalimatnya yang pasti membuat cowok dihadapannya ini marah.

Ia menatap di sekelilingnya, mayoritas menatapnya sinis. Dan sebagian menatapnya kasihan. Jelas ia tak butuh semua itu. "Ma-maaf gue beneran nggak sengaja. Sumpah gue didorong tadi sama temen gue." Ucapnya pelan. Hampir tak terdengar kalau posisi mereka tak sedekat ini.

Koridor yang tadi sempat ramai, kini mulai berkurang. Karena bel masuk yang lima menit lagi akan berbunyi.

Kavin masih memandangi gadis didepannya ini. Dengan rambut yang digulung asal, malah membuat sisi manis diwajah gadis itu. Ia menggeleng. Kenapa malah mengagumi adik kelas ini sih. Rutuknya dalam hati.

"Oke, tapi lo harus bantuin gue nyopotin kertas ini dari mading," ia menunjuk beberapa hasil karya siswa disini yang terpasang di mading.

Gadis itu mengernyitkan dahinya. Memangnya ada yang salah dengan mading ini, menurutnya kerja klub jurnalistik sudah sangat bagus untuk mading. Lalu kenapa harus dicopot. Buang-buang tenaga saja.

Kavin yang sadar akan sorot bingung gadis itu lalu menyela, "Ini udah waktunya diganti, dan ketua klub jurnalistik udah minta buat nyopotin ini semua. Nggak usah banyak ngomong. Kerjain sekarang."

Dengan patuh Sachi mencabut satu persatu kertas yang menempel dari papan mading. Tangannya bergerak cepat, agar segera keluar dalam suasana ini. Demi apapun, ia tak tahan pesona cowok disampingnya ini. Pesonanya menguar begitu saja.

Dan posisinya saat ini, membuat Sachi harus memejamkan matanya. Aroma mint memenuhi indra penciumannya, menenangkan dan sukses membuat jantungnya bertalu-talu.

"Udah selesai. Gue mau balik ke kelas" ucapnya setelah memasukkan kertas-kertas mading ke kardus yang berada tepat disampingnya.

Tak dipedulikannya lagi sikap senior yang membuatnya tak berkutik itu. Tubuhnya berbalik, melangkah ke belakang. Tapi sebelum kakinya melangkah ke dalam kelasnya yang hanya berjarak tak lebih dari dua meter dari tempat Kavin berdiri. Cowok itu mengucapkan kalimat yang sukses membuat tubuhnya bergetar.

"Lo nggak lupa sama gue kan Sisi? Atau perlu gue ingetin kalau kita pernah pacaran?"

Sachi ambruk dan semuanya menjadi gelap.

Ia mati muda!!!

---

Eaa ternyata Mbak Sachi pernah mantanan sama Mas Kavin๐Ÿ˜‚ berakhir jadi manten apa bakal tetap jadi mantan?

Komentar